Meskipun mendapatkan penolakan dari berbagai pihak, Kementerian Pendidikan Nasional kembali bersikeras akan melaksanakan Ujian Nasional. Di Harian Tribun Timur, Edisi 1 Januari 2011 yang lalu diberitakan Pemerintah tetap akan melaksanakan Ujian Nasional pada bulan Mei mendatang dengan format yang berbeda. Tak ada lagi Ujian Ulangan bagi siswa yang tidak lulus. Bagi yang tidak lulus, akan diberikan pilihan yakni mengikuti ujian paket C atau menunggu hingga ujian nasional tahun mendatang.
Berita ini tentunya merupakan kado awal tahun yang pahit dari pemerintah buat pelaku dunia pendidikan di Indonesia terutama pelajar yang kembali akan dihantui oleh UN. Hajatan akbar ini pastinya akan kembali menjadi momok paling menakutkan yang akan menghadirkan frustasi sosial mahaakbar, apatahlagi pemerintah tidak akan memberi ampun (baca : ujian ulangan) bagi mereka yang tak bisa memenuhi standar nilai yang ditentukan. Negara kembali hadir sebagai lembaga yang abai terhadap suara rakyat, guru dan pelajar yang menyatakan bahwa ujian nasional tidak sesuai dengan UU Sisdiknas, UU Guru dan prinsip paedagogis. Negara tak lagi menjadi nation yang melindungi hak-hak sipil warga negaranya dan kemudian berubah menjadi alat yang memonopoli kekerasan atas rakyatnya.
Hentikan Ujian Nasional!
Jika kita menganalisa lebih jauh, tak ada lagi alasan bagi pemerintah untuk kembali menggelar Ujian Nasional. Secara hukum, UN telah dinyatakan inskonstitusional dan ilegal oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 21 Mei 2007 yang memutuskan bahwa Presiden, Wapres, Menteri Pendidikan Nasional dan Ketua BSNP, lalai memberikan pemenuhan dan perlindungan HAM terhadap warga negara yang menjadi korban ujian nasional. Hal ini kemudian dipertegas lagi oleh putusan Mahkamah Agung yang melarang pelaksanaan ujian nasional. Sehingga pemerintah seharusnya mematuhi putusan hukum yang telah ditetapkan.
Kemudian dari perspektif tujuan dilaksanakannya ujian nasional yang katanya demi pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan di negeri ini. Pemerintah hampir dikatakan tak pernah melakukan evaluasi terhadap hasil ujian nasional apalagi melakukan pemetaan dan perbaikan mutu. Masih jelas di benak penulis, ketika tahun lalu Menteri Pendidikan Nasional, Muh. Nuh berjanji di Makassar bahwa akan melakukan evaluasi, pemetaan dan perbaikan terhadap hasil ujian nasional yang baru saja dilaksanakan saat itu. Namun hingga saat dimana UN kembali akan digelar, belum ada upaya kongkrit dari pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang lemah dalam pelajaran yang diujikan. Belum lagi upaya perbaikan dan pemerataan pendidikan yang belum juga dilakukan. Jika memang bertujuan memetakan mutu pendidikan, pemerintah mestinya memperbaiki dan meningkatkan akses, proses, biaya dan sarana pendidikan demi memperbaiki mutu.
Belum lagi komitmen pengembangan mutu pendidikan lewat anggaran belanja sebesar 20 persen pun belum terwujud dalam aksi nyata. Tercatat 55 persen gedung sekolah rusak, 25 persen diantaranya rusak berat. Jadi hanya 45 persen saja gedung sekolah yang dikategorikan baik. Apakah pemerintah akan terus menerus menutup mata dengan realitas ini? Dan kemudian bersikap apatis, tak mau peduli. Pemerintah sudah seharusnya sadar bahwa masih banyak di negeri ini, gedung sekolah yang berantakan dan dalam kondisi memprihatinkan. Atap sekolah yang rontok, dinding-dinding yang bolong, meja kursi reot dan berbagai sarana yang jauh dari standar minimal pelayanan pendidikan masih menjadi sebuah ironi di negara yang lebih dari setengah abad merdeka ini. Situasi tersebut hampir merata di seluruh pelosok negara. Banyak anak di negeri ini yang mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam situasi yang mengenaskan. Sebagaimana yang dialami siswa anak petani miskin di Desa Pulau Nyiur, kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan yang belajar dalam satu lokasi yang dibagi menjadi tiga ruang dimana salah satunya untuk siswa tiga kelas. Tidak lulus ujian nasional atau di bawah standar tentunya bukan pilihan anak-anak itu sendiri. Mereka tidak bisa memilih situasi yang lebih baik untuk fasilitas dan layanan pendidikan.
Apakah adil menuntut hasil yang standar jika ruang kelas, guru dan fasilitas pembelajaran sebagai bagian dari proses pendidikan belum standar?. Penulis sepakat dengan para aktivis pendidikan yang menilai bahwa ujian nasional seperti pola berpikir tengkulak. Pemerintah hanya ingin memetik hasil dengan jalan pintas tanpa peduli proses untuk mendapatkan hasil. Padahal, masih sangat banyak anak yang kurang atau bahkan tidak memiliki akses dalam menyiapkan diri menghadapi ujian nasional.
Richard Pring (1995) menyebutkan bahwa terlalu banyak anak kita telah diperlakukan sebagai pihak yang tidak penting karena mereka tidak dapat berhasil di dunia akademis. Anak-anak kita-yang tidak lulus UN dianggap tidak mampu memasuki percakapan intelektual yang didefinisikan orang-orang yang memiliki posisi dalam kendali akademis. Para guru pun merasa pahit ketika melihat standar didefinisikan seluruhnya dari segi kerangka keunggulan akademis (kognitif) padahal para guru mengetahui bahwa ada banyak aspek yang dibutuhkan untuk membentuk pribadi seorang anak.
Jikalau sudah seperti ini, UN tak lagi menjadi sebuah alat untuk melakukan pemetaan dan perbaikan mutu pendidikan. UN secara tidak langsung hanya menjadi alat pembodohan dan penindasan sistemik. Anak didik di drill untuk menyelesaikan soal pilihan ganda yang berakibat pada pembentukan karakter siswa yang senang berspekulasi. Maka, jangan heran jika ada siswa yang pintar dan baik namun tidak lulus sementara siswa yang malas dan sering tidak masuk sekolah lulus.
Pola evaluasi seperti ini tentunya hanya akan melahirkan anak didik yang cerdas secara kognitif namun lemah secara afektif, psikomotorik maupun spiritual. Hal inilah yang mungkin menjadi alasan mengapa banyak lulusan lembaga pendidikan kita hanya menjadi pengangguran karena tak memiliki skill dan soft skill (afektif) yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Penulis bahkan khawatir jika nantinya dunia pendidikan kita hanya akan melahirkan “Gayus Tambunan” baru. Lulusan-lulusan yang tidak memiliki integritas dan karakter yang kuat sehingga sangat mudah diperbudak oleh permainan politik dan kekuasaan.
Lain lagi dengan standarisasi nilai kognitif yang harus dipenuhi. Tak jarang di beberapa sekolah tiap tahunnya membentuk “tim sukses UN” agar anak didik sukses memenuhi standarisasi yang ditentukan. Seluruh komponen sekolah menguras tenaga semaksimal mungkin agar anak didik dapat lulus 100%. Karena selain demi keberhasilan pengajaran, hal ini juga demi sebuah prestise sekolah. Mulai dari les tambahan, kursus privat hingga tak jarang ada juga yang melakukan kecurangan. Seperti yang diberitakan di berbagai media tentang dilaksanakannya ujian nasional ulangan menyusul adanya penemuan tindak kecurangan (kebocoran soal) di beberapa daerah tahun lalu. Selain itu, dengan format UN yang baru dilansir oleh Kemendiknas dinilai hanya akan memberikan ruang yang lebih bagi sekolah untuk melakukan mark-up nilai, memberi “bekal” nilai gila-gilaan demi kelulusan siswa. Sehingga tak jarang nilai hasil UN tidak sesuai dengan kemampuan siswa. Penulis pernah menemukan seorang guru yang mengeluhkan siswanya yang susah menerima pelajaran padahal nilai ujian nasionalnya di atas rata-rata.
Kita tentunya berharap agar Ujian Nasional tak lagi menjadi alat pembodohan dan penindasan sistemik yang hanya mengakibatkan jatuhnya “korban” dimana-mana. Cukup sudah kita melihat betapa banyak pelajar di negeri ini yang stress, frustasi atau bahkan bunuh diri hanya karena mereka tak bisa memenuhi keinginan pemerintah.
Hentikan Ujian Nasional. Lakukan evaluasi terhadap hasil UN tahun-tahun sebelumnya. Paparkan terapi (treatment) apa yang dipersiapkan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan. Jangan hanya selalu mematok angka-angka batas kelulusan sementara tidak melakukan perbaikan secara komprehensif. Jangan lagi menghamburkan-hamburkan ratusan miliar uang negara untuk hajatan nasional yang hanya dijadikan lahan proyek bagi pihak yang tidak bertanggung jawab. Lebih baik gunakan dulu untuk memperbaiki fasilitas dan layanan pendidikan seluruh anak didik di negeri ini baru kemudian diuji secara nasional. Sudah saatnya kita mengakhiri kegemaran mengutak-atik kebijakan dan segera merancang blueprint pendidikan nasional agar visi pendidikan Republik Indonesia dapat lebih terarah.
Akhirnya, jika Kemendiknas masih tetap ngotot melaksanakan Ujian Nasional, kita tantang Pak Menteri, Bapak Muhammad Nuh, BSNP beserta jajarannya untuk ikut menyelesaikan soal ujian bersama pelajar di bulan Mei mendatang. Kita buktikan apakah beliau-beliau yang terhormat itu juga sanggup memenuhi
Selengkapnya...
Senin, 14 Februari 2011
Ujian Nasional Bareng Pak Menteri
Jumat, 15 Oktober 2010
Dimensi Sosial Merapatkan Shaf Shalat
Jum’at pekan lalu, saya melaksanakan shalat jum’at di salah satu masjid di kawasan jalan Pongtiku. Tidak banyak yang sempat saya dengarkan dari khutbah saat itu. Bukan karena saya tertidur seperti kebanyakan kita yang tertidur saat khotib menyampaikan khutbahnya atau bicara bersama teman di samping saya. Itu karena saya telat hadir di masjid saat itu sehingga mungkin pahala yang saya dapatkan hanya sebutir telur ayam.
Khutbah selesai dan muadzin segera ambil posisi dan mengumandangkan iqamah. Shalat jum’at berjamaah akan segera dimulai. Imam pun mengingatkan kepada jemaah untuk meluruskan shaf dan merapatkannya sebelum nantinya ia mengangkat takbir. Saya pun antusias merapikan dan mengajak jamaah yang lain untuk merapatkan shaf. Beberapa kali saya menyeru namun orang di samping saya tak juga merapat. Akhirnya kubiarkan saja shaf itu renggang dan kumulai untuk ikut takbir. Dalam hati sempat terbersit kekesalan akan orang yang disamping saya yang tidak mau merapatkan shafnya. Seperti kebiasaan saya menggumam dalam hati setiap kali saya shalat di masjid. Apalagi masjidnya agak besar. Sering saya berfikir, mengapa kita selalu membiarkan shaf kita tidak rapi, membiarkan celah menganga dimana-mana. Mengapa di masjid besar tak pernah kutemukan jemaah shalat dengan shaf yang lurus, rapat dan rapi?. Apakah ini meniscayakan keseharian kita yang enggan bersatu? Lewat tulisan ini, semoga kita bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dalam berjamaah.
Merapatkan Shaf
Jama’ah sendiri berasal dari kata Al-Jam’u, Al-Jam’ah yang berarti jumlah manusia yang banyak. Lawan dari kata ini adalah Al-Mutafarruq (perpecahan). Jadi, shalat berjamaah itu sendiri adalah shalat yang dilakukan secara bersama antara imam dan makmum dan di dalammnya terdapat ketentuan atau syarat-syarat tertentu.
Salah satu ketentuannya adalah meluruskan dan merapatkan shaf. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Nu’man bin Basyir ra. Rasululullah SAW pernah bersabda “Luruskan (samakanlah) shaf-shaf kalian (beliau mengulangi 3 kali), maka demi Allah hendaklah kalian meluruskan shaf kalian atau sungguh Allah akan menyelisihkan diantara hati-hati kalian.” Dalam riwayat lain disebutkan “Hendaklah Kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian.”(Hadist riwayat Bukhari). Dua dalil ini mengisyaratkan kepada kita bahwa meluruskan dan merapatkan shaf adalah wajib dalam shalat berjamaah. Mengapa wajib? Karena di akhir sabda rasul ini didapati ancaman jika kita membiarkan shaf renggang. Ancaman bahwa Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian itu sebenarnya dapat dimaknai sebagai peluang adanya perselisihan, pertikaian atau perbedaan dalam ummat Islam jika kita enggan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada kita “Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling berdekatanlah, dan luruskanlah dengan leher-leher (kalian), karena demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seakan-akan dia adalah kambing kecil.” (HR Abu Dawud). Bisa jadi syetan-syetan yang menyelinap dalam celah-celah shaf itulah yang menyemaikan benih kebencian dalam hati kita sehingga shalat yang kita lakukan tidak mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.
Allah Azza Wa Jalla berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang rapi (teratur) seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (Surah Shaf : 4). Ayat ini menyerukan kepada manusia untuk merapatkan barisan dalam jihad di jalanNya. Tidak hanya dalam jihad berperang tetapi juga shalat berjamaah. Shalat berjamaah juga merupakan jihad, karena dalam melaksanakannya kita dituntut untuk rela meninggalkan pekerjaan, perdagangan kita atau aktivitas apapun itu.
Kita juga sering mendapati imam menyeru acap kali ingin memulai shalat berjamaah. “Sawu shufufakum..” atau “Luruskan dan rapatkan shaf..” agar para jemaah mudah mengerti. Di saat seperti ini semestinya para jemaah wajib menaati perintah sang imam untuk merapatkan shaf. Karena antara imam dan makmum terdapat relasi instruksional agar makmum mengikuti imam. Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk kamu ikuti, maka janganlah kamu menyelisihinya…” Jelaslah bahwa sebagai seorang makmum kita harus mengikuti imam, baik gerakan atau perintahnya, termasuk seruan merapatkan shaf.
Dimensi Sosial
Ada banyak makna yang terkandung dalam shalat berjamaah. Terlebih jika kita merapikan dan merapatkan shaf kita. Beragam manfaat yang ditawarkannya. Pertama, shalat berjamaah mampu membangun hubungan emosional yang erat diantara kita. Membangun kepedulian satu sama lain. Salam di akhir shalat itulah yang merupakan manifestasi kepedulian kita . Mendoakan keselamatan bagi orang yang berada di kiri kanan kita. Terkadang, dua orang yang bermusuhan bisa kembali berbaikan jika ia shalat berjamaah. Kedua, dalam shalat berjamaah terdapat kesetaraan. Kesetaraan sebagai manusia yang sama di hadapan sang Khalik. Tak ada diferensiasi antara si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat. Semua sama, semua punya hak untuk berada di dalam satu shaf. Terlebih ketika diri ini bersujud, merendahkan diri di hadapanNya. Ketiga, shalat berjamaah mengajarkan kita untuk disiplin dan membiasakan diri untuk mengikuti pemimpin kita. Tak ada yang berani menolak untuk ruku’ ketika imam ruku’ dan sujud ketika imam sujud. Begitu pula jika kita masbuk, kita dianjurkan untuk langsung mengikuti gerakan imam. Semua bergerak bersama dalam satu komando.
Semua itu bermuara pada dimensi terpenting dalam shalat berjamaah. Adalah memupuk rasa integritas, kesatuan gerak, kesatuan rasa. Semua bersatu dalam gerak harmoni seirama, dipimpin oleh satu imam. Shalat berjamaah menghidupkan rasa kemerdekaan (freedom), persamaan (equality) dan persaudaraan (brotherhood) Dimensi social inilah yang sebenarnya bisa memberikan stimulus bagi perkembangan perilaku kita. Toleran, kerukunan dan kebersamaan. Hal yang jarang kita dapati dalam kehidupan nyata. Padahal, jika kita mengamati kemajuan prilaku religiusitas masyarakat sekarang semakin meningkat.
Coba tengok, masjid yang dulunya sering kosong melompong kini telah diisi oleh jemaah. Di masjid dekat rumah saya, jamaah shalat isya yang dulunya tidak lebih dari satu shaf kini merapat ke belakang hingga mencapai tiga shaf. Bak gayung bersambut, pembangunan masjid pun dimana-mana. Data dari Departemen Agama menunjukkan saat ini kurang lebih ada sekitar 700.000 buah masjid tersebar di seluruh pelosok negeri. Meningkat dari tahun 2004 yang jumlahnya hanya 643.834 buah masjid. Pengurus masjid berlomba-lomba mempercantik bangunan masjid dengan memugar sana-sini, berusaha keras agar jemaah nyaman berada di dalam masjid. Entah tujuannya untuk apa. Apakah agar pemasukan celengan masjid bertambah atau apalah. Terlepas dari tendensi dan motivasi di baliknya, yang jelas kita bersyukur atas semua itu. Karena masyarakat kita kini lebih religius. Jika begitu, mengapa toleransi, kerukunan dan kebersamaan sulit kita raih? Mengapa kita masih saja saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain? Hingga berujung pada pertikaian, tawuran yang tak jarang merenggut nyawa. Seakan menganggap perdamaian, prestise itu hanya diperoleh dari perang. Mengapa kita malah semakin “buas” setelah ritual keberIslaman kita meningkat? Justru banyak diantara kita yang mengaku beriman namun malah menjadi “panglima” setiap kali ada kekerasan dengan alasan agama.
Sebuah Refleksi
Mungkin salah satunya disebabkan karena kekeliruan kita dalam menjalankan aktivitas keberagamaan kita. Kita menganggap bahwa ibadah hanya sekedar dimensi ritual an sich. Tak ada dimensi social di dalamnya. Salah satunya, dalam melaksanakan shalat berjamaah. Kita enggan menyempurnakan dan merapatkan shaf. Padahal ketika berjamaah itulah moment dimana seluruh umat muslim bisa bersatu. Tak ada perbedaan, satu kata dan perbuatan. Kita tentunya sangat menantikan hal itu. Dimana toleran, kerukunan dan kebersamaan terangkum dalam kehidupan social kita. Yang jelas, perdamaian dan kerukunan yang kita dambakan bersama bukanlah suatu yang absurd. Ummat Islam bersatu bisa saja dicapai jika kita mulai dari hal yang kecil seperti ini. Namun jika kita masih enggan, sangat naif jika kita berharap demikian. Semua ummat bersatu membagun negara ini atau bahkan melawan musuh Islam. Wajar jika perpecahan dan perselisihan itu masih ada. Seperti hadits Rasulullah berikut ini; Hai hamba-hamba Allah, kalian benar-benar meluruskan shaf kalian (jika tidak) Allah akan (menimbulkan perselisihan) di antara wajah-wajah kalian.” (HR Muslim dan Ahmad)
Wallahu A’lam.
Selengkapnya...
Senin, 11 Oktober 2010
Penjahat
Seorang pemuda duduk di trotoar jalan meminta-minta sedekah dari orang-orang yang lewat di jalan. Pemuda itu besar dan bertubuh kekar namun tubuhnya lemas karena lapar. Di sana ia duduk sambil menengadahkan tangan sambil meminta kepada yang lalu lalang, memohon dengan sangat kemurahan hari mereka untuk mengasihinya, meratapi nasib dan menangis didera pedih perih perut karena lapar.Malam telah larut karena gelap. Bibirnya menjadi kering dan lidahnya berubah layu dan tangan dan perutnya kosong melompong. Ia beranjak dan pergi ke luar kota dan duduk di bawah pepohonan serta meratap dengan ratapan yang getir. Ia menengadahkan matanya yang berkaca-kaca ke atas dan mengadukankelaparannya.
"Tuhan, aku telah mendatangi si kaya untuk mencari kerja namun mereka acuh lantaran pakaianku yang compang-camping. Telah kuketuk pintu rumah sekolah dan mereka melarangku masuk karena tanganku hampa. Kucari pekerjaan demi nafkah sehari-hari tapi orang menolakku karena nasibku bertentangan dengan diriku. Maka, aku pun kini mengemis."
"Mereka yang menyembah Engkau, wahai Tuhan, memandang diriku dan berkata orang ini kuat dan mampu, sedang belas kasihan bukan untuk mereka yang lamban dan malas. Ibuku melahirkanku atas ridho-Mu. Karena engkau pula aku ada. Mengapa orang meniadakanku rezeki yang kucari atas namamu?"
Dan seketika itu pula, air permukaanya berubah. Dia bangkit berdiri dengan mata yang nyalang bak bintang cemerlang. Lalu dari cabang pohon yang mengering dibuatnya tongkat berat. Diacungkannya ke tengah kota dan berteriak. "Aku mencari nafkah dengan peluh keningku namun tiada mendapatkannya. Kini, aku akan mengambilnya dengan kekuatan tangan besiku. Telah kuminta sepotong roti atas nama cinta, namun tak seorang pun mendengarkan diriku. Kini aku akan mencarinya atas nama kejahatan.."
Tahun demi tahun berlalu dan pemuda itu memenggal leher insan demi kepentingan perhiasannya dan merusak tubuh demi memuaskan nafsu makannya. Dia akhirnya bertambah kaya dan tersohor karena kekejaman dan kebengisannya. Dia dicintai di kalangan perampok dan ditakuti oleh orang-orang yang patuh hukum.
Demikianlah orang dengan ketamakannya melahirkan para penjahat yang menyedihkan dan dengan kekerasannya mengubah anak yang baik menjadi penjahat.
Selengkapnya...
Kamis, 14 Januari 2010
Cara Mengubah File Word ke PDF
Sebenarnya genre tulisan ini sangat berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya di blog ini. Namun, saya merasa hal ini penting untuk saya sampaikan ke teman-teman sebab hal ini sangat krusial bagi Anda terutama bagi para pelamar pekerjaan atau beasiswa yang sering kali berhadapan dengan hal-hal yang menggunakan aplikasi PDF di dalamnya, misal Curriculum Vitae. Selain itu, sebenarnya saya cuman mau nambahin aja postingan terbaru krn dah lama nggak ngubah-ngubah tampilan blog ini.. (hehehe,, lagi males kali yak..)
Baik, daripada berlama-lama membincang kenapa tulisan ini hadir mari kita mulai "berlatih" (hehehe,, kyk PSSI aja..) mengubah file word Anda ke PDF. Tapi, sebelumnya saya sampaikan bahwa tutorial seperti ini sebenarnya sudah sangat banyak namun menurut saya tutorial ini lebih mudah dari yang laen.. Karena selain singkat, ini juga murah lho.. cukup 5000 rupiah saja (lha kok malah jualan yak?? hehehe..)
Oke cappo,,!! Let's play..!!
1. Pertama,, silakan teman-teman download dulu software gratis dan "ringan" ini doPDF
2. Jika sudah selesai, langsung diinstal aja ke komputer teman-teman
3. Sudah??? Langkah selanjutnya,, teman-teman tinggal membuka file Microsoft Word yang ingin Anda ubah ke dalam bentuk PDF
4. Setelah itu silakan pilih toolbar Print atau menekan Ctrl+P. Pastikan aplikasi yang udah temen-temen download dalam kondisi "aktif" (Ket : Set as Default Printer : doPDF v7) tapi jika belum, silakan mengaktifkannya di Control Panel - Printer and Faxes.
5. Pastikan Anda "berhadapan" dengan dialog box Print lalu pilih OK. Maka selanjutnya akan tampil "dialog box" dr software tersebut. Pilih Browse untuk menempatkan file yang telah Anda konversi ke PDF trus jangan lupa,, ketik nama file sesuka Anda.
6. Jika semua sudah dilewatin (ciee,, kayak petualangan aja..) pilih OK dan tunggu sejenak maka file Anda akan tampil dalam bentuk PDF.
Gimana??? mudah kan..????
Kalo gitu silakan mencoba dan semoga bermanfaat...
Nuun Wal Qalami Wa Maa Yasthurun
Selengkapnya...
Minggu, 13 September 2009
Ramadhan yang Khas
kau meniru ucapan Nabi atau kau tlah
merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu..??
tapi, bukankah kau masih selalu menunda-nunda
menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub,
riya, takabbur dan sampah-sampah lainnya yang
masih mampat di comberan hatimu?
Berbagai fenomena khas kemudian tlah banyak kita jumpai dalam kurun waktu beberapa pekan belakangan ini. Singkat kata, jadwal dan acara yang menyibukkan kita di hari-hari ramadhan seperti sudah siap tersedia, tinggal mengikutinya. Kita telah memprogram Ramadhan, bukan sebaliknya Ramadhan yang memprogram kita. Kita kemudian merekayasa "kesucian" ramadhan bukan Ramadhan yang menyucikan kita.
Tentu saja itu hanyalah gambaran umum. Selalu ada pengecualian pada gejala yang umum terjadi. Pastilah ada hamba-hamba yang kukuh bergeming, mencoba untuk melawan arus. Mereka yang memandang Ramadhan sebagai momen yang baik untuk mengharap ridhoNya. Menjadikan ramadhan sebagai anugrah Allah setelah selama sebelas bulan melakukan rutinitas yang seringkali jauh dari kepentingan diri baik spiritual ataupun emosional. Bagi mereka ramadhan bagaikan hadiah yang diberikan Allah berupa kesempatan untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri sebagai hamba dan khalifahNya. Bisa jadi mereka melihat fenomena keagaaman yang hadir saat bulan Ramadhan dengan kritis sehingga berupaya untuk paling tidak memilih untuk memulai dari diri sendiri saja.
Mereka berpuasa sebagaimana yang lain berpuasa. Mereka merasa bahwa bulan ramadhan adalah kesempatan yang paling baik untuk melakukan perenungan, terutama terhadap amal perbuatan mereka yang bersifat keagamaan. Apakah amal mereka murni hanya karna mengharap ridhoNya? atau jangan-jangan niatannya disusupi dengan kehendak nafsu yang tersembunyi? Mengapa dzikir dan bacaan Qur'an mereka mesti melengking-lengking yang acap kali "mengganggu" orang kalau memang itu diniatkan hanya semata karna Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat.
Akhirnya, di bulan Ramadhan ini, mereka berusaha seoptimal mungkin berpuasa dari hal-hal selain yang berkaitan dengan dambaan akan memperoleh ridhoNya.
Apakah kita termasuk mereka? ataukah... ahh.. mudah-mudahan tidak.. amin..
Selengkapnya...
Harga Sebuah Tanda
Ketika kepada Sayed Ghaus Ali Syah dipertanyakan "Mengapa engkau meminta bayaran sedemikian mahalnya untuk pelajaran-pelajaran yang engkau berikan?" beliau menjawab "Mengapa tidak..??"
Si penanya melanjutkan :
" Sudah tentu engkau tidak mengeluarkan biaya yang sedemikian besarnya untuk memperoleh pengetahunmu itu atau untuk hidup sambil membagi-bagikan pengetahuan itu?"
"Sebaliknya!" jawab sang sufi "untuk memperoleh pengetahuan itu aku telah mengeluarkan sedemikian banyaknya biaya sehingga uang tidak dapat menutupinya. Uang bagiku hanyalah sebuah tanda, tetapi bagimu adalah kenyataan"
Selengkapnya...
Sabtu, 06 Juni 2009
Tuntutan Amerika Kepada SBY Jika Jadi Presiden
Seorang mantan Menteri di era Pemerintahan pasca Soeharto, mengaku memperoleh banyak masukan dari beberapa orang yang selama ini menjadi anggota Tim Sukses SBY. Informasi itu menyangkut issue seputar keterlibatan Amerika Serikat dibelakang kenaikan SBY sebagai Presiden RI. Ternyata keterlibatan semacam AIPAC, Pentagon, NSC, China perantauan, dan para Lobbyist Indonesia di Kongres negara adidayaa itu tidak bohong 100 persen. Keterlibatan mereka memang ada, meski ditutup-tutupi oleh kedua belah pihak.
Menurut mantan menteri yang hobbinya mancing itu, beberapa "tuntutan" negara adidaya itu memang masuk akal bagi kepentingan kapitalis globalnya. Dulu ketika dia masih menjabat di pemerintahan, daftar "keinginan" negara adidaya itu juga pernah disodorkan Presiden kepadanya yang menerima "pesan" itu melalui Dubes AS di Jakarta. Tapi kondisi dalam negeri yang saat itu sedang "chaos" akibat angin Reformasi yang berhembus kencang, sehingga beberapa bagian tuntutan itu tak semuanya bisa "dibayarkan" hingga dia keluar dari kabinet karena berubahnya pemerintahan saat itu.
Menurut mantan menteri ini, mungkin saja AS masih menagih atas daftar tuntutannya yang belum kesampaian di negeri ini. "Nah, secara kebetulan pak SBY yang mau menerima "syarat" itu", katanya enteng. Apa saja sebenarnya yang diinginkan pihak Amerika untuk negeri kita saat ini?
Di bidang Ekonomi
Mantan Menteri itu mengatakan tuntutan negeri Paman Sam itu masih berkisar pada izin konsesi untuk tambang minyak dan gas bumi serta mineral lainnya. Misalnya saja izin konsesi untuk tambang tembaga dan emas di pulau Irian yang dikerjakan oleh PT Free Port. Mereka minta konsesi 100 thn untuk explorasi dan produksi, serta tambahan cakupan wilayah konsesi hingga mencapai 10 persen wilayah pulau kaya mineral itu.
Sementara untuk minyak dan gas bumi, mereka minta jaminan yang sama untuk PT Caltex Indonesia di Riau, PT Exxon untuk Aceh serta perluasan konsesi tambang migas untuk perusahaan UNOCAL di Kalimantan dan lepas pantainya. Dan diizinkan pula perusahaan AS ini membuka konsesi baru di wilayah kepala burung pulau Irian yang kaya itu.
Sementara untuk explorasi tambang gas terbesar di dunia, yaitu kepulauan Natuna, buah hasil kunjungan Presiden Clinton ke Jakarta beberapa tahun lalu, mereka juga prinsipnya meminta jaminan hukum dan kepastian yang membuat investasi mereka kelak di wilayah itu aman dari berbagai tuntutan rakyat Indonesia.
Untuk sektor diluar pertambangan, kepentingan ekonomi AS yang diangap penting di negeri ini adalah operasi Lembaga Keuangan dan Perbankan Internasionalnya. Kata pak mantan menteri itu, mereka meminta Bank Indonesia dan Depkeu mengizinkian pembukaan cabang-cabang yang lebih luas untuk operasi perbankan dan lembaga keuangan asing, termasuk pasar uang dan pasar modal, di semua ibukota propinsi dan kota-kota metropolis lainnya di Indonesia. Selama ini memang operasi bank-bank asing semacam Citibank, terbatas di Jakarta dan kota besar di Jawa saja seperti Bandung dan Surabaya.
Sementara itu mereka juga meminta SBY kelak lebih mempererat kerjasama ekonomi dengan teman lama yaitu IMF, WB dan forum APEC. Juga menyangkut kebijakan Pemerintah Indonesia ke depan yang menjamin terjadinya proses Liberasi Ekonomi yang lebih agresif dan sehat. Termasuk melanjutkan privatisasi BUMN seperti zaman pemerintahan Megawati. Dan diizinkannya pihak asing menguasai asset BUMN hingga 100 persen dalam 5-10 tahun ke depan. Pesanan yang terakhir ini, kata pak mantan menteri itu, lebih merupakan "pesanan" para China Hoakiao yang berjasa memberikan pendanaan kepada partai Demokrat. Mereka ini di koordinasi oleh BUMN Singapore yang selama ini rajin memborong asset-asset Pemerintah RI yang dilego Megawati melalui kementrian BUMN.
Bahkan atas titipan Singapore tampaknya, pihak AS minta agar diizinkannya 'menyewa' dan 'mengexplorasi' beberapa pulau kecil yang tidak berpenghuni ke pihak asing dengan perlindungan hukum yang jelas. Juga ada tuntutan untuk diberikannya jaminan kebebasan oleh otoritas moneter Indonesia dalam proses transfer dana hasil keuntungan jaringan bisnis Internasional yang beroperasi disini tanpa ada lagi pembatasan jumlah dana yang keluar Indonesia. Dan untuk menjamin terlaksananya kebijakan ini, tak tanggung-tanggung mereka menitipkan sejumlah nama calon Menteri Ekonomi yang akan paham betul bagaimana kepentingan AS disini antara lain: Sri Mulyani, Marie Pangestu,Iwan Jaya Aziz, Dorojatun K Jakti, Baihaki Hakim, dan ECW Neloe.
Di bidang Militer dan Keamanan Regional
Informasi yang didapat pak Menteri menyebutkan bahwa Pemerintah AS, khususnya Pentagon, menginginkan Pemerintahan SBY kelak mendukung upaya AS dan negara sekutunya untuk melakukan internasionalisi selat Malaka dalam jangka waktu 2-3 tahun ke depan. Sementara untuk dalam negeri, pihak AS tampaknya ingin sekali melihat reformasi juga terjadi secara prinsipiil dalam organisasi TNI. Mereka meminta Pemerintahan SBY mempelopori upaya penghapusan fungsi territorial TNI dalam kurun waktu 5 tahun pemerintahannya. Juga mereka mendesak agar kekuatan TNI-Laut yaitu armada timur dan barat dilebur dan dihapuskan menjadi komando utama saja yang berpusat di Jakarta.
Bagaimana dengan persenjataan TNI yang selama ini diboikot AS? Mereka meminta kepada Pemerintahan SBY kelak agar usaha modernisasi persenjataan TNI tetap mengacu pada sistem persenjataan negara adidaya itu. Mereka meminta pembelian senjata ex-AS dilakukan tidak langsung dan cukup senjata bekas pakai dari negara ketiga yaitu: Korsel, Taiwan dan Israel. Sementara itu mereka juga meminta Pemerintah SBY membentuk badan baru di bidang intelejen kepolisian (semacam FBI) dengan berintikan anggota Detasemen 88 yang sebelumnya telah dididik FBI untuk penanggulangan terrosime global.
Di bidang Politik dan Diplomasi
Mereka meminta agar Pelembagaan KPU dilakukan secara tetap untuk masa jabatan 5 tahun yad, melalui mekanisme hukum yang tegas dan lebih kuat sehingga tak mudah di intervensi dan digoyang DPR. Sementara di bidang otonomi daerah, mereka juga mengusulkan revisi UU Otonomi Daerah yang menjamin tiap Propinsi di Indonesia bisa lebih luwes dalam berhubungan secara langsung dgn pihak luar negeri, terutama dalam arus modal, tanpa menunggu Jakarta. Mereka juga berkeinginan melalu revisi UU Otoda itu, kelak propinsi-propinsi diIndonesia bisa mandiri sehingga suatu saat nanti akan mengarahkan NKRI menjadi negara Federal. Di bidang kepartaian, mereka meminta SBY agar bisa memikirkan sistem Multi Partai yang ada sekarang ini mulai dibatasi sehingga tersisa sekitar 2-3 parpol saja di masa depan seperti di AS.
Dalam diplomasi Internasional, pihak AS minta bantuan Pemerintahan SBY sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ikut aktif membantu kebijakan AS di Timur Tengah. Indonesia diminta untuk mendekati negeri-negeri Arab garis keras untuk bersikap moderat dan membantu Israel untuk merumuskan formula perdamainnya sendiri di Palestina. Indonesia diharapkan AS berperan aktif pula dalam kampanye melawan terrorisme internasional yang menjadikan Islam sebagai tameng.
Islam Fundamentalis dan Dunia Kampus
Sementara itu untuk mencegah munculnya Islam Fundamentalisme dalam pendidikan di ponpes-ponpes di seluruh Indonesia, mereka mendesak Pemerintahan SBY kelak memiliki kewenangan mengatur ponpes-ponpes itu seperti Departemen Pendidikan mengatur sekolah-sekolah swasta. Pengaturan dan intervensi Pemrintah itu meliputi sistem pembelajarannya dan terutama kurikulum. Dan untuk mengimbangi perkembangan paham fundamentalisme di Indonesia, mereka mendesak agar Pemerintahan SBY kelak mendorong tumbuh-berkembangny a kajian-kajian Keislaman Moderat semacam Lembaga Kajian yang ada di negara-negara maju saat ini. Mungkin yang mereka maksud adalah semacam Jaringan Islam Liberal (JIL) yang sudah mereka danai selama ini.
Bagaimana dengan dinamika kampus-kampus di Indonesia yang selama ini menjadi sumber perubahan di Republik ini? Ternyata Pemerintah AS berencana akan meyekolahkan ratusan pemuda Indonesia kembali setiap tahunnya seperti di masa lalu, dengan program bea siswa yang didanai oleh Deplu AS dan Lembaga Donasi lainnya di AS. Maksud program itu intinya agar mereka memiliki persepsi yang pas tentang Amerika Modern dewasa ini. Pihak AS juga sudah akan membuka pusat-pusat layanan Informasi di berbagai kampus di seluruh Indonesia (sebuah sudah di bangun AS di Univ. Muhammadiyah Malang tahun ini), menyangkut informasi seputar kehidupan bangsa Amerika. Hal sama akan mereka lakukan melalui badan penyiaran Internasional AS yaitu "Voice of America (VoA)" yang akan merintis lebih banyak lagi unit-unit siaran mereka di Indonesia dalam bentuk kerjasama dalam materi pemberitaan dan siaran untuk radio maupun televisi di sluruh Indonesia.
Sumber Forum.swaramuslim. net
Selengkapnya...
Mengapa Menolak Mazhab Neoliberalisme
Depresi besar pada 1930-an merupakan satu peristiwa traumatik yang pernah melanda umat manusia. Kejadian ini sangat mengejutkan banyak orang mengingat pencapaian yang begitu gemilang dalam ekonomi barat. Akibat depresi ini, standar hidup masyarakat mengerdil sampai ketitik nadir. Bank-bank dengan nama besar ambruk di gulung oleh gelombang depresi ekonomi. Pengangguran bergerak kepuncak dan saham dibursa pasar finansial terjung bebas. Eropa dirundung duka dan seluruh dunia diambang tsunami ekonomi.
Kini diabad ini dimana ekonomi berada dipuncak geliatnya seakan mengingatkan kita pada peristiwa serupa dimasa lampau. Banyak ahli ekonomi mengatakan bahwa ini hanya guncangan finansial semata. Tapi saya tidak setuju dengan pandangan mayoritas ilmuwan dan pengamat ekonomi itu. Bagi saya, ini krisis kapitalisme dan merupakan bukti kegagalan dari model ekonomi yang ditukangi oleh Adam Smith ini.
Kini semua orang tiarap. Pabrik-pabrik gulung tikar. Bank-bank juga gamang dan tersungkur satu persatu. Aktivitas ekonomi hampir tak lagi bergerak. Aliran import dan eksport terhenti. Perusahaan-perusahaan kelas raksasa memberhentikan karyawannya demi bertahan hidup dan efisiensi. Banyak orang lalu bunuh diri.
Semua orang pusing dengan kondisi krisis ekonomi yang melanda dunia. Dan pengamat memprediksi, kondisi ini belum memiliki tanda-tanda akan berakhir. Negara-negara yang selama ini memuja pasar, kini dengan sangat malu harus menyelamatkan ekonominya melalui berbagai stimulus fiskal. Sebuah langkah yang amat dibenci oleh eyang Smith.
Neoliberalisme
Dalam konteks ekonomi, pemikiran mengenai mekanisme pasar bebas jika ditelusuri jauh kebelakan, maka gagasan ini berawal dari seorang tokoh mazhab fisiokrat, Francis Quesnay. Mottonya yang terkenal laissez faire – laissez passer sangat menginspirasi Smith dalam melahirkan konsep free market systemnya di kemudian hari. Bagi Smith negara sedapat mungkin tidak melakukan campur tangan dalam mengatur perekonomian. Biarkanlah perekonomian berjalan dengan wajar tanpa campur tangan negara. Sebab akan ada suatu tangan tak kentara (invisible hand) yang akan membawa perekonomian tersebut bergerak kepada keseimbangan.
Gagasan ini saya kira tidak bisa dilepas dari pemikiran seorang ilmuwan lainnya, Charles Darwin. Darwin mengatakan bahwa dalam hidup ini akan terjadi suatu pertarungan dimana yang akan muncul menjadi pemenang adalah mereka yang terbaik. Atau dalam istilah ekonomi sekarang, ialah mereka yang paling kompetitif. Mereka yang membayar tenaga kerja murah, efisien dalam alokasi sumber daya dan sebagainya.
Smith lupa bahwa karakteristik manusia itu serakah. Sehingga dalam prakteknya kita tak menemukan suatu pun teori ini menemukan relefansinya. Orang-orang begitu curang. Apa pun dilakukan dalam mengakumulasi kapital. Hal-hal yang bersifat etik pun ditabrak. Jadilah perekonomian itu menjadi rimba yang menggulung orang-orang kecil. Hukum rimba berlaku, siapa yang kuat dialah yang akan menang. Siapa yang paling memiliki akses dialah yang menang. Dalam kondisi inilah terjadi selingkuh antara kuasa dan modal yang melahirkan anak haram koorporatokrasi.
Neoliberalisme sendiri merupakan hasil dari evolusi pemikiran ini. Dalam perkembangannya neoliberalisme mengalami pembelahan. Pertama, aliran Ordo Neoliberalisme. Pemikiran ini berkembang di Jerman akhir tahun 20-an, pemikirannya sudah mengakomodasi kritikan-kritikan yang dilancarkan oleh pengikut Marx. Kedua, aliran neoliberalisme yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh neoliberal yang tergabung dalam The Mont Pelerin Society (MPS). Aliran ini tidak menghendaki adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian dan menjadikan pasar sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan program-program pembangunan. Bahkan pada tingkat tertentu mazhab ini menihilkan negara.
Tokoh-tokoh mazhab pasarisme ini antara lain: F.A. Heyek, Milton Friedman, Gray S. Becker, dan George Stigler. Dan pendukung paling banyak aliran ini adalah orang-orang Yahudi jebolan ekonomi Universitas Chicago.
Saya ingin mengingatkan kita semua dengan pidato Prof. Boediono di gedung Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Jum’at (15/05) “Negara tidak boleh terlalu banyak campur tangan. Sebab itu akan mematikan kreativitas. Tetapi negara juga tidak boleh hanya tertidur.” coba perhatikan dua anak kalimat awal dari professor ilmu ekonomi UGM ini betapa terang bagaimana jalan pikiran ekonomi pasar dan moneteris yang menjadi lokomotif ekonomi bagi guru besar UGM ini. Ini persis dengan pernyataan dedengkot pasarisme, Friedman.
Supaya meyakinkan kita semua bagaimana jalan pikiran pak Boediono, coba kita buka kembali pidato pengukuhan guru besarnya di bidang ilmu ekonomi tahun 2007 yang lalu di Bulaksumur. Dalam pidato puncak karir akademiknya itu, lelaki kalem yang tak banyak bicara ini menulis dengan judul “Dimensi Ekonomi-Politik Pembangunan Indonesia”.
Dalam naskah itu tertera jelas pertumbuhan amat didengunkan. Karena pertumbuhan akan memberikan efek tetes minyak bagi masyarakat. Dengan begitu diharapkan terjadi pemerataan, mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Inilah yang disebut dengan trickle down effect. Saya melihat pak Bud, memahami sejarah ekonomi kita sebagai sebuah rangkaian peristiwa saja, padahal menurutku amat banyak hal substansial yang bisa dipelajari atau dimaknai disana. Juga pak Bud abai dengan serangkaian aspek struktural, misalnya bagaimana relasi ekonomi kita sebagai bagian dari struktur besar merkantilisme, Belanda (VOC) sebagai negara jajahan. Itu yang membuat begitu kuatnya Hatta dalam mempertahankan koperasi sebagai basis ekonomi bagi Indonesia. Walau pun ini mungkin "gagal" dalam implementasinya.
Tulisan ini sama sekali tidak ingin masuk membicarakan pribadi pak Bud, saya lebih tertarik mempersoalkan wilayah pemikirannya semata karena saya takut terjebak dalam kesesatan berfikir (fallacy) dan lalu menyerang orang secara pribadi atau Argumentum ad Hominem. Sosok pak Bud adalah pribadi yang sederhana dan baik dan tak banyak basa-basi.
Lalu kenapa harus menolak Neoliberalisme?
Jelas secara normatif, ekonomi haluan liberal dalam konteks Indonesia tidak mendapat tempat secara konstitusional. Sebab dalam ekonomi nasional yang dianut adalah asas kolektivisme. Ini tercermin dalam UUD 1945 ada dua anak kata yang amat menarik yaitu ‘kesejahteraan’ dan ‘keadilan’. Artinya para founding father negeri ini merancang suatu bangunan ekonomi yang menyejahterakan dan berkeadilan. Dengan koperasi sebagai instrumennya. Para pendiri republik menyadari betapa berbahayanya kepemilikan individual apalagi berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.
Kedua, secara praksis ekonomi, sebenarnya ekonomi neoliberal telah gagal dalam menyejahterakan umat manusia. Rentetan krisis ekonomi yang terjadi mulai tahun 30-an, 60-an, 90-an dan sekarang 2009 menunjukkan betapa model ekonomi ini tidak memiliki basis sosial yang kuat dan menjadi alasan bagi negara-negara dunia ketiga untuk mempertahankannya. Ia telah gagal dan menjilat ludahnya. Dengan sangat malu, terpaksa harus melakukan campur tangan fiskal dalam bentuk stimulus untuk menjaga agar praktek ekonominya tidak ambruk.
Saya ingin mengutip James Tobin, peraih nobel ekonomi tahun 1981, ia menulis begini "Kita menghamburkan semakin banyak sumber daya kita ke dalam semakin banyak aktivitas keuangan yang kian menjauh dari produksi barang dan jasa. Itulah kegiatan pengerukan laba yang sama sekali tidak punya produktivitas sosial. Genesius komputer telah disalahgunakan untuk 'ekonomi kertas', tidak membantu transaksi ekonomi secara produktif, tetapi hanya menggelembungkan jumlah dan ragam transaksi finansial. Itulah mengapa sampai kini tinggi hanya menghasilkan dampak mengecewakan bagi ekonomi, membantu pembiakan spekulasi yang ganas, tidak efisien dan bermata rabun".
Dengan jujur Andrew Lahde, seorang pialang pasar saham yang pada tahun 2007 lalu pernah melipatgandakan uang para kliennya sampai 1.000 persen. Ia adalah pemilik Lahde Capital. Ia tidak sampai bunuh diri akibat krisis finansial yang melanda USA, namun ia menulis surat selamat tinggal yang kira-kira intinya bahwa hidup akan kian mencekik dan resesi ekonomi beberapa tahun kedepan belum akan berakhir. "Saya memilih duduk di pinggir, menunggu. Bukankah duduk dan menunggu tanpa melakukan apa-apa adalah cara yang selama ini kita pakai untuk menjarah uang kredit perumahan? Kapitalisme telah hidup 200 tahu, tetapi zaman telah berubah, dan sistem ini sekarang telah menjadi sedemikian korup".
Secara etik, ekonomi neoliberal sangat tidak adil. Hukum rimba tak bisa dihindari dalam kompetisi pasar. Akhirnya menghalalkan segala cara untuk mengakumulasi kapital, baik yang dilakukan oleh individu pemodal atau pun yang dilakukan oleh negara. Lahirlah anak haram rezim koorporatokrasi.
Akhir kata wassalam kapitalisme global.
Selengkapnya...
Selasa, 17 Maret 2009
Partai Yang Katanya Bersih...
DENPASAR - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berusaha membela diri atas penangkapan salah satu calon anggota legislatifnya dalam kasus illegal logging. Menurut pengurus PKS Bali, Muhammad Ilyas hanyalah kader pindahan dari parpol lain.
"Dia (Ilyas) hanyalah kader pindahan dari partai lain yang baru enam bulan ikut bergabung ke PKS. Ini karena jumlah kader PKS di Jembrana sedikit, sehingga kita terpaksa mengambil kader dari luar," kata Ketua DPW PKS Bali Heri Sukarmaeni ketika dihubungi lewat telepon, Senin (2/3/2009).
Menurut Heri, selain karena keterbatasan jumlah kader, pertimbangan partainya merekrut Ilyas karena yang bersangkutan memiliki pemikiran proggresif. Ilyas, imbuhnya, selama ini memiliki rekam jejak bersih.
Karena itu, Heri mengaku kecolongan. Apalagi dari 5.000 kader PKS di Bali belum ada yang pernah tersangkut tindak pidana. Dengan adanya kasus tersebut, Heri juga mengakui pihaknya belum melakukan pengkaderan secara maksimal. "Karena itu kita serahkan kepada proses hukum yang berlaku. Soal mundur atau tidak, KPU yang akan memutuskan," imbuhnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ilyas yang menjadi caleg PKS dari daerah pemilihan Kabupaten Jembrana ditangkap polisi karena menjadi pelaku illegal logging. Ia kini mendekam di sel tahanan Mapolres Jembrana, Bali. (ful)
Selengkapnya...
Kamis, 05 Februari 2009
Menyikapi Geliat Pemekaran Wilayah
Baru-baru ini kita dikagetkan oleh pemberitaan di stasiun TV tentang kematian salah satu anggota legislatif DPRD Tingkat I Provinsi Sumatera Utara. Abdul Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumut sekaligus aktivis Partai Golkar meninggal dunia setelah Selasa pagi, sekitar seribu orang menamakan dirinya Aliansi Pendukung Propinsi Tapanuli menyerbu gedung dewan untuk mendesak DPRD Sumut untuk segera menyetujui pemekaran wilayah Propinsi Tapanuli dan melakukan pengrusakan dan bahkan kekerasan terhadap Caleg DPR RI tersebut.
Masalahnya sepele, masyarakat menginginkan agar DPRD Sumut segera menyetujui draft proposal pengajuan pemekaran yang sebelumnya telah disetujui oleh Gubernur Sumut hingga menjadi perbincangan di DPR RI. Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian mengapa masyarakat sangat menginginkan adanya pemekaran wilayah ini? dan malah mengakibatkan Ketua DPRD Sumut sebagai "tumbalnya"? Apakah ada maksud terselubung dibelakang semua ini?
Spirit Otoda
Pemekaran wilayah sebenarnya telah ada sejak dulu, yakni pada tahun 1950 dimana saat itu Propinsi Sumatera dimekarkan Provinsi Sumatera Utara (termasuk di dalamnya Aceh), Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan dan dilanjutkan pada tahun 1956, Provinsi Kalimantan dipecah menjadi provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Begitu seterusnya hingga akhirnya pemekaran wilayah terakhir terjadi pada tahun 2004 yang lalu dimana Sulawesi Selatan dipecah menjadi Sulawesi Barat.
Spirit awal pemekaran wilayah ini sebenarnya adalah untuk mencoba meningkatkan taraf hidup rakyat, melakukan pengelolaan sumber daya secara efisien dan mengupayakan pelayanan yang optimal terhadap kebutuhan rakyat. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, spirit ini nampaknya memudar dan tergantikan oleh -klo saya menyebutnya sikap latah- semangat otonomi daerah. Pemekaran wilayah atau pembentukan daerah otonomi baru semakin marak sejak disahkannya UU No 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU No 32 Tahun 2004. Sejak adanya UU ini tercatat hingga Desember 2008 telah terbentuk 215 daerah otonom baru yang terdiri dari tujuh provinsi, 173 kabupaten, dan 35 kota. Dengan demikian terdapat 524 daerah otonom yang terdiri dari 33 provinsi, 398 kabupaten, dan 93 kota. Bahkan menurut perkiraan, pada tahun 2020 Indonesia nantinya akan memiliki 40 propinsi.
Tentunya hal ini sangat mengagetkan kita. Betapa tidak, dengan maraknya pemekaran wilayah ini bisa jadi akan terjadi disintegrasi di Indonesia. Mengapa, karena hal ini tentunya akan memicu konflik horizontal antara wilayah yang lama dengan wilayah yang baru. Tragedi di Sumut cukuplah menjadi contoh. Desakan masyarakat untuk membentuk Propinsi Tapanuli akhirnya berujung pada meninggalnya salah satu legislator Sumut. Belum lagi, Kapolda Sumut yang meningkatkan status keamanan di Sumut menjadi siaga satu setelah kejadian tersebut. Banyak hal yang bisa saja terjadi dan nampaknya akan sangat berdampak pada stabilitas suatu wilayah.
Dibutuhkan Pengkajian Mendalam
Jika alasannya untuk mensejahterakan rakyat dengan perbaikan ekonomi dan taraf hidup masyarakat, saya rasa hal itu merupakan hiasan bibir belaka. Telah banyak realita yang kita dapatkan ketika suatu daerah melakukan pemekaran wilayah tidak banyak membantu mensejahterkan rakyat. Yang ada hanya rakyat semakin miskin dan melarat serta terbelakang diakibatkan oleh manajemen pemerintahan yang tidak jelas atau bisa juga kita sebut grand design. Muncullah predator-predator baru yang akan senantiasa menghisap nadi masyarakat. Gedung-gedung pemerintahan baru ada di sana-sini yang akhirnya mengahambur-hamburkan anggaran.
Tidak adanya perencanaan dasar atas wilayah yang dimekarkan bisa jadi akan mengorbankan rakyat yang pada awalnya bertujuan untuk memakmurkan rakyat. Setidaknya dalam melakukan pemekaran wilayah terlebih dahulu dipersiapkan grand design dengan mencoba menganalisis bagaimana penataan wilayah dan sistem administrasi ketika dilakukan pemekaran wilayah. Selain itu, peta politik masyarakat dan administrasi pemerintah harus menjadi dasarnya. Jadi, dalam melakukan pemekaran wilayah tidak hanya merujuk pada cukup tidaknya jumlah daerah yang akan masuk ke wilayah tersebut. Sehingga, jika hal ini tidak dipenuhi maka saya rasa tidak ada alasan untuk setuju dengan pemekaran wilayah tersebut.
Melihat geliat pemekaran wilayah yang saat ini terasa di beberapa wilayah nampaknya hanya didasari oleh tendensi politik atau kepentingan sesaat saja. Mengapa demikian, karena penulis menganggap bahwa justifikasi untuk membentuk wilayah baru tidak rasional. Hanya didasari oleh jumlah daerah yang menghuni wilayah tersebut dan bahkan hanya merujuk pada sejarah yang telah diukir oleh daerah yang melakukan pemekaran sebelumnya, di Bangka Belitung misalnya. Tentu sangat naif jika kita mengorbankan tanah air kita, mengubur impian rakyat kita akan kesejahteraan hanya karena tendensi politik dan kepentingan sesaat belaka. Jadi, perlu ada pengkajian yang lebih komprehenif dan fundamentalnya nampaknya sebelum memutuskan untuk "bercerai" dengan "rumah asal". Akhirnya, kita berharap fenomena ini tidak dijadikan sebagai ajang untuk meraup keuntungan bagi pribadi, golongan atau pihak manapun. Apalagi hal ini dimanfaatkan untuk kepentingan politik belaka. Mudah-mudahan tidak..
Selengkapnya...
Senin, 26 Januari 2009
IPM Makassar Mengutuk Agresi Israel ke Palestina
Agresi besar-besaran yang dilakukan oleh Israel yang telah berlangsung kurang lebih 3 pekan terakhir ini terus mendapat kecaman dari berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia. Tidak hanya dari negara-negara Arab dan sekitarnya, berbagai negara di Eropa pun telah jelas mengutuk serangan yang telah menewaskan 900 orang lebih dan 3200 orang luka-luka meskipun Dewan Keamanan PPB telah mengeluarkan resolusi untuk melakukan genjatan senjata.
Tak ketinggalan, organisasi-organisasi seluruh dunia pun mencoba bersuara, mengutuk keras pembantaian yang telah dilakukan oleh Israel di Perbatasan Gaza, Palestina. Salah satunya adalah IPM Kota Makassar. Organisasi perhimpunan pelajar Muhammadiyah di Kota Makassar ini menyatakan mengutuk keras serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap negara yang merupakan tempat lahirnya tiga agama samawi tersebut. “Sebagai organisasi Islam tentunya kami sangat mengecam seluruh aktivitas militer Israel yang telah melakukan pembantaian besar-besaran di perbatasan Gaza, Palestina. Apalagi sebagian besar korbannya adalah warga sipil, yakni anak-anak dan wanita yang tidak berdosa” tegas Wardiyansyah, Ketua Bidang Hikmah dan Advokasi PD IPM Kota Makassar.
Dian, sapaan akrab Wardiyansyah, menambahkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Israel merupakan tragedi Keynoshida (pembantaian besar-besaran) dalam sejarah peradaban umat manusia di dunia. Untuk itu, perlu ada tindak tegas dari pihak yang berwenang, dalam hal ini PBB, untuk segera menghentikan agresi militer tersebut. “Kami mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk dapat meminta kepada DK PBB untuk segera bertindak tegas atas pembantaian yang dilakukan terhadap saudara-saudara kami di Palestina agar korban yang berjatuhan tidak bertambah lagi. Karena belakangan ini kami menilai PBB kehilangan taringnya dalam mencoba mengatasi krisis yang berlangsung diantara kedua negara tersebut” ungkapnya.
Aktivis IPM ini juga berharap kepada seluruh negara-negara Arab agar segera melakukan upaya untuk mencoba menengahi pertikaian yang terjadi di Timur Tengah. “Kami berharap negara-negara Arab mampu membuka mata dan berempati atas apa yang tengah dirasakan oleh warga Palestina saat ini serta mencoba mencari solusi untuk segera mengakhiri pembantaian ini. Kepada negara-negara tetangga Palestina, seperti Mesir, kami meminta agar dapat memberikan akses di perbatasan Rafah agar bantuan dapat segera disalurkan” jelasnya.
Ketika ditanya apa yang telah dilakukan oleh IPM sendiri bagi Palestina, Dian hanya mengatakan bahwa saat ini di kalangan IPM telah berupaya untuk melakukan penggalangan dana di seluruh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tersebar di Kota Makassar. “Paling tidak apa yang kami lakukan ini merupakan wujud simpati kami dan kami berharap ini mampu memberikan bantuan kepada saudara-saudara kami di Palestina walaupun bentuknya kecil. Kami juga menghimbau kepada seluruh warga IPM untuk dapat mendoakan saudara-saudara kita di Palestina yang mungkin saat ini berhadapan dengan bom-bom yang terus menerus diluncurkan oleh roket-roket Zionis Israel” tutupnya. (aw)
Selengkapnya...
Belajar Dari Obama
Tanggal 20 Januari lalu akhirnya Amerika Serikat, negeri adidaya itu, memiliki pemimpin baru. Ya, pemimpin itu adalah orang yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya sekaligus sepak terjangnya dalam memimpin negara berpenghuni 303.834.687 orang ini. Dia adalah Barrack Husein Obama. Pemuda yang masih berumur 47 tahun ini menjadi presiden Amerika ke-44 dan menggantikan seniornya yakni George W. Bush. Anak muda Menteng ini juga berhasil mencatat sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika.
Ada banyak faktor penentu kemenangan Barrack Obama dalam memenangkan pemilu presiden awal November lalu. Salah satunya adalah dia berhasil meraih dukungan lewat dunia cyberspace (dunia maya). Sebuah strategi baru dalam menggaet suara dari pemilih yang sebagian besar merupakan pengguna dari media ini. Barrack Obama membuat situs www.barrackobama.com dan juga membangun citra dirinya lewat situs jejaring sosial, salah satunya adalah Facebook.
Belajar dari hal tersebut, nampaknya beberapa alternatif media seperti situs pribadi, portal video YouTube, jejaring sosial seperti Facebook, atau pesan layanan singkat memang atau biasa dsebut SMS memang sangat berpengaruh dalam pencitraan kandidat.
Menurut pakar komunikasi Emerson College’s Department of Communication Studies di Boston, AS, Prof Dr J Gregory Payne, media alternatif ini sangat berpengaruh dalam meraih suara dan kelompok yang paling terpengaruh adalah pemilih pemula yang notabene relatif merupakan swingvoters. Payne juga mengatakan bahwa media alternatif yang juga efektif sebagai alat kampanye adalah pesan layanan singkat yang untuk Indonesia sangat cocok.
Kampanye Lewat Facebook
Bakal calon presiden Indonesia belakangan ini juga nampaknya sudah tidak mau ketinggalan untuk memanfaatkan media alternatif seperti Facebook. Dalam rangka meraih simpati dari pemilih, para kandidat capres mulai memanfaatkan Facebook sebagai media kampanye mereka. Sehingga, tak ayal jika kita menemukan Facebook dari beberapa kandidat capres ketika kita menulis namanya di fasilitas search. Pengelolaannya tentu saja tidak dilakukan oleh capres tersebut. Tetapi, ada tim kerja yang akan senantiasa memutakhirkan data, menjawab pesan dari kita, atau mengisi dinding (wall). Beberapa dewan legislatif pun banyak yang mencoba peruntungan di Facebook. Mereka senantiasa memutakhirkan informasi di Facebook yang membuatnya seolah-olah memiliki pekerjaan baru, yakni mengelola Facebook.
Mari kita tengok bakal capres termuda, Yuddy Chrisnandi, yang meyakini bahwa berinteraksi dengan pendukung lewat Facebook merupakan sebuah kebutuhan. Jusuf Kalla, putra Sulsel yang menjadi capres tertua ini juga tak mau ketinggalan untuk memiliki akun di Facebook. Capres dari PDIP, Megawati Soekarno Putri juga berlomba untuk gabung di Facebook. Bahkan, orang nomor wahid di Indonesia pun, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono melirik fasilitas ini. Wiranto, Amien Rais, Sutiyoso, Sultan Hamengkubuwono X, Prabowo Subianto, Hidayat Nur Wahid, dan Fadjroel Rachman pun tentunya tak mau ketinggalan.
Berdasarkan data di situs internetworldstats.com, memang pengguna internet di AS memang belum bisa dibandingkan dengan pengguna internet di Indonesia. Pengguna internet di AS pada tahun 2008 adalah 72,5 persen dari jumlah penduduknya. Sedangkan pengguna internet di Indonesia, hanya 10,5 persennya dari total penduduk 237.512.355 jiwa yakni sebasar 25 juta orang. Tentunya bukan jumlah yang sedikit untuk meraih suara.
Media dan Kampanye
Ada pelajaran yang sangat berharga menurut saya yang dapat kita ambil dari terpilihnya Obama. Barrack Obama, yang tak pernah terpikirkan oleh banyak orang mampu bersaing di kancah politik AS, berhasil menyedot perhatian masyarakat AS dan bahkan dunia.
Obama berhasil memanfaatkan peranan media dalam mengkonstruk citra tentang dirinya. Dia berhasil meramu tim media yang mampu mendongkrak popularitasnya dalam kurun waktu yang cukup singkat. Obama juga cerdik dalam memainkan isu strategis dan meyakinkan pemilih bahwa dirinyalah yang layak memimpin AS. Kecerdikannya itu ditambah dengan kemahiran berorasi sehingga spontan pemilih seakan terhipnotis ketika mendengarkan pidatonya. Hal inilah yang dimainkan oleh para jurnalis untuk membangun citranya sebagai pemimpin muda, cerdas dan pembawa perubahan.
Payne mengatakan bahwa media massa maupun media alternatif lainnya sangat memiliki peranan dalam melakukan kampanye. Peranan media ini akan kita lihat saat Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga di dunia melakukan Pemilu, April mendatang. Payne mengakui, media alternatif berbasis internet belum tentu berhasil di Indonesia karena sebagian besar rakyat Indonesia belum melek internet.
Akan tetapi, menurutnya, ada media alternatif lain, yaitu pesan layanan singkat. Pesan layanan singkat pernah membalik sejarah politik dan hasil kampanye di Spanyol. Hanya karena seorang kandidat salah mengomentari bom Madrid, dalam dua hari terakhir, opini publik berpaling dari kandidat itu. Indonesia adalah negara pengguna pesan layanan singkat terbesar di Asia Tenggara setelah Filipina dan peluang ini sangat efektif digunakan dalam menarik simpati di Pemilu mendatang.
KPU telah menentukan jadwal pilpres yang akan dihelat Juli mendatang. Itu artinya masih tersisa sekitar enam bulan lagi waktu kita untuk menganalisa dan memikirkan pemimpin yang akan mengawal negeri ini lima tahun ke depan dan jendela di dunia cyberspace menjadi salah satu pisau analisis kita.
Selengkapnya...
Jumat, 26 Desember 2008
Menggenggam Dunia Lewat Membaca
ngangkat tinggi tradisi keilmuan yang merupakan perangkat dasar kemajuan peradaban dan ilmu pengetahuan manusia. Tanpa “membaca”, manusia akan mengalami stagnasi yang memprihatinkan dan kejumudan berpikir. Tulisan ini mencoba mengelaborasi makna kedua ini dalam konteks Indonesia.Ketika tulisan dan buku ditemukan, dimulailah tradisi baru yang mengubah seratus delapan puluh derajat peradaban manusia. Informasi, petuah, pelajaran, yang tadinya hanya disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut, menjadi sesuatu yang bisa diakses kapanpun di manapun, tanpa reduksi kealpaan daya ingat informan. Ribuan tahun perjalanan sejarah tidak banyak kita ketahui karena tak tertulis.Tak salah jika Louis L’Amour, pengarang terkenal keturunan Prancis, menyatakan bahwa buku adalah kemenangan terbesar yang diraih manusia. Melalui buku itulah ilmu pengetahuan dapat ditularkan ke segenap penjuru dunia. Dalam peradaban modern sekarang, buku kemudian berubah wujud menjadi lembaran-lembaran koran, disket komputer, serta compact disc.
Dalam hal ini kita patut prihatin melihat kondisi Indonesia. Tradisi buku dan membaca belum terlalu mapan di kalangan masyarakat, namun kita sudah harus menerima tradisi lanjutannya, teknologi informasi dan dunia audio visual dengan ditemukannya televisi. Seketika, dunia hiburan merajai tren budaya kita, sementara buku dan tulisan dengan segera juga ditinggalkan. Jadilah kita mengalami apa yang disebut sebagai “lompatan budaya”. Apalagi ketika dunia internet saat ini sudah menjadi bagian dari keseharian kita.
Tengoklah data yang dirilis Kompas (25 Juli 2002), bahwa hanya sekitar satu persen SD Negeri di Tanah Air yang jumlahnya sekitar 260.000, yang memiliki perpustakaan. Itupun dengan kondisi yang masih patut dipertanyakan. Kadang malah justru perpustakaan di sekolah-sekolah lebih mirip gudang buku; tanpa administrasi yang memadai, ruang baca yang layak, dan persediaan buku yang seadanya. Bandingkan dengan sekolah-sekolah di luar negeri, yang menjadikan ruang perpustakaan sebagai prasyarat utama pendirian sekolah.
Sekedar perbandingan lain, ketika merumuskan konstruksi rumah, tidak terpikirkan oleh orang Indonesia untuk memberi porsi khusus untuk ruang baca, bahkan untuk lemari buku sekalipun. Tentu saja kecuali rumah dosen, peneliti, dan kalangan lain yang berhubungan langsung dengan dunia buku dan intelektual. Di negeri-negeri maju, kesadaran membaca sangat terimplementasi ketika mereka memilih sekoalah, membangun rumah, dan bahkan ketika mereka berekreasi.
Ada beberapa hal yang membuat tradisi membaca dan tradisi buku kita jauh terbelakang, bahkan kalah jauh di bawah Malaysia, antara lain:
Pertama, sistem pendidikan nasional kita yang juga berantakan, tidak melatih tradisi pemikiran dan tidak berorientasi menstimulasi kecerdasan dan kecenderungan siswa berdasarkan potensi dan minatnya. Kritik dan cacian terhadap sistem pendidikan yang sangat terbelakang ini toh tidak menjadikan pemerintah kita memberi perhatian lebih. Peran ini direbut oleh swasta dan bahkan lembaga pendidikan asing yang sudah menjamur di kota-kota besar. Tidak heran kemudian banyak bertebaran sekolah-sekolah unggulan berharga ratusan juta. Konsekuensinya, sekolah “bagus” hanya dapat dinikmati oleh anak-anak orang berduit.
Kedua, rendahnya minat dan daya beli masyarakat terhadap buku. Di sisi lain, penghargaan terhadap karya intelektual seseorang juga sangat rendah. Pada akhirnya, industri buku hanya menguntungkan distributor dan toko buku. Bayangkan jika seorang pengarang sekaliber Pramoedya Ananta Toer, yang bukunya selalu menjadi best seller, hanya mendapatkan royalti sebesar 15 % (dan ini tergolong royalti terbesar). Selebihnya adalah keuntungan penerbit dan toko buku. Sementara, jangankan berharap dari subsidi untuk penerbitan buku dari pemerintah, yang ada malah banyak penerbit mengeluhkan pajak penerbitan.
Belum lagi jika kita lihat kesenjangan antara kota besar di Indonesia dengan daerah-daerah lain. Munculnya sekolah-sekolah unggulan dengan fasilitas perpustakaan yang memadai cuma ada di Jakarta dan beberapa kota besar. Begitu juga dengan media massa, dari 300-an media massa yang ada, 60% lebih terkonsentrasi di Jakarta. 40% lainnya tersebar di seluruh wilayah lain di Indonesia.
Yang dominan kemudian adalah dunia hiburan, entertainment, yang relatif diterima di seluruh pelosok lewat saluran televisi. Dalam sebuah seminar, Prof. Dr. Fuad Hasan, mantan Mendiknas Indonesia, juga mensinyalir kecenderungan menurunnya budaya baca sebagai akibat pengaruh audio-visual dari benda ajaib yang disebut sebagai pesawat televisi. ‘’Benda ajaib itu menjadi saingan terberat bagi kegiatan membaca masyarakat. Mereka menjadi semakin malas membaca karena anggapan sudah cukup hanya dengan mendengarkan berbagai informasi dari media audio-visual tersebut,” ungkapnya lebih lanjut.
Kehadiran teknologi internet yang memungkinkan informasi diakses pada saat terjadi, meski berjarak ribuan kilometer, pun tidak banyak membantu tradisi membaca di Indonesia. Hanya sedikit kalangan yang pada dasarnya memang kuat tradisi membacanya, yang memanfaatkan internet sebagai “media informasi”, sementara kebanyakan lainnya menggunakan internet sebagai media hiburan.
Dengan kondisi Indonesia semacam itu, akankah kita percaya bahwa membaca adalah tradisi yang diprovokasi al-Quran sejak pertama kali turun? Akankah kita bisa meyakinkan dunia bahwa Indonesia bukan negeri kebodohan? Entah.
Selasa, 23 Desember 2008
Pemerintah Tak Lagi Peduli Pendidikan
Sudah seminggu belakangan ini, media ramai menyajikan berita tentang demo besar-besar mahasiswa dalam rangka menolak RUU BHP yang telah disahkan oleh DPR baru-baru ini. Hampir di seluruh pelosok negeri diwarnai dengan aksi penolakan terhadap UU BHP. Mahasiswa seakan-akan marah akibat ulah pemerintah yang lagu-lagi dinilai sangat menyengsarakan rakyat.
Jelas, mahasiswa sebagai bagian yang akan merasakan akibat dari hadirnya undang-undang ini tidak akan tinggal diam. Mereka pun langsung hadir di garda depan menyuarakan penolakan terhadap UU ini. Demo besar-besaran pun tumbuh bak jamur di musim hujan. Mulai dari Sabang hingga Merauke, termasuk di Makassar, mahasiswa beramai-ramai mendatangi gedung wakil rakyat yang dinilai paling bertanggung jawab atas hal ini.
Betapa tidak, menurut mereka dengan lahirnya UU BHP ini akan lebih memberikan lampu hijau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengkomersialisasikan pendidikan. Sehingga, segala cara dapat dilakukan untuk meraup keuntungan dari mahasiswa dan akhirnya mahasiswa dijadikan komoditi dan tak mampu lagi mengakses pendidikan, terutama bagi mahasiswa yang termarginalkan.
Selain itu, menurut saya, langkah ini adalah sebuah ketidakpedulian pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan. Saya menilai, kebijakan pemerintah untuk memberikan peluang seluas-luasnya kepada pihak kampus merupakan sebuah tindakan lepas tangan dari tanggung jawab. Padahal seperti yang tertuang di UUD 1945 yang kita tahu bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk memajukan pendidikan.
Kalo pemerintah mencoba mengajukan apologi bahwa hal ini untuk memicu kreativitas pihak kampus dalam proses mencari dana pendidikan, saya rasa itu cuman justifikasi. Malah menurut saya, dengan hal ini pihak kampus akan semena-mena menggunakan kekuasaannya dalam memanajemen kampus termasuk persoalan keuangan. Sehingga, mahasiswa bisa saja dijadikan komoditas untuk meraup keuntungan dan akhirnya lagi-lagi mahasiswa menjadi korban dari semua skenario pemerintah ini.
Saya teringat dengan lirik lagu bang Haji Rhoma Irama yang bunyinya kayak gini "yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin". Usulan saya kita tambah lagi lirik itu dengan kata bodoh jadi "yang miskin makin bodoh". Tapi, itupun kalo Rhoma Irama mau. Sudahlah.. Nampaknya ke depan hal ini akan terjadi di dunia pendidikan kita walaupun itu sudah terjadi hari ini sich.. Ya.. kita tunggu saja apa sikap pemerintah dalam merespon hal ini. Semoga aja mereka yang di gedong DPR sana bisa menjadi penyambung lidah aspirasi rakyat dan merasakan penderitaan orang miskin. Meskipun mereka tak pernah mau merasakannya. Yang jelas, kepada mahasiswa mari kita bersama-sama menolak segala bentuk penindasan, penjajahan, pembodohan dan ketidakadilan. Hidup Mahasiswa..!!!
Jumat, 19 Desember 2008
Brilliant Class BPK Penabur dan Surya Institute
BPK PENABUR bekerjasama dengan Surya Institute (Yayasan Prof. Yohanes Surya) mengajak siswa SMP Kelas 9 dengan prestasi dan kemampuan akademis sangat istimewa untuk dipersiapkan dengan suatu kurikulum khusus sains tingkat universitas dengan pendampingan spiritual, psikologis dan sosial yang utuh agar akhirnya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi terbaik di dunia demi ikut membangun ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia tercinta di masa depan....!
Persyaratan Pendaftaran
Siswa/i SMP kelas 3:
• Memiliki nilai rata-rata Matematika, IPA, Bahasa Inggris semester
I-IV = 9.0, atau
• Meraih medali perak/emas OSN atau Penghargaan di Olimpiade
Matematika/Sains Internasional, atau
• Memiliki hasil Tes IQ >= 145 (Very Superior), atau
• Memiliki rekomendasi dari kepala sekolah SMP.
PROSES SELEKSI
Kirimkan segera:
• Curriculum Vitae lengkap, dengan No. HP/Telp. & email (format CV
lihat disini).
• Rapor SMP Semester I-IV yang telah dilegalisir
• Fotokopi Sertifikat Pemegang Medali OSN/Olimpiade Matematika/Sains
Internasional (jikalau ada)
• Rekomendasi Guru Matematika/Sains
• Rekomendasi kepala sekolah/ Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Provinsi
• Hasil IQ tes terakhir (jikalau ada)
Ke alamat:
Surat: Jl. Tanjung Duren Raya No.4, Jakarta 11470
Email: brilliant[at] bpkpenabur. or.id
Informasi lebih lanjut: www.bpkpenabur. or.id
Telepon: 021 5666 965 - 66 ext 510-515
Telephone: 021 5666 965 - 66 ext 510-515, 021 5633828 or SMAK Gading
Serpong: 021 54205137, 021 5469695
Bagi calon yang memenuhi persyaratan akan diundang untuk mengikuti
seleksi lebih lanjut. Waktu dan tempat seleksi akan diberitahukan
kemudian.
PROFIL LULUSAN
Sesuai dengan moto BPK PENABUR yaitu Iman, Ilmu dan Pelayanan,
moto tersebut menjadi landasan profil lulusan kelas khusus ini, yaitu:
1. Academic excellence
Lulusan berhasil diterima di universitas terkenal di dunia dan unggul
dalam persaingan global.
2. Biblical characters
Lulusan mengerti, mengalami dan mencintai transforming characters yang
akan mengubah dirinya sendiri dan dapat mempengaruhi masyarakat.
3. Community builder
- Lulusan memiliki kecakapan hidup untuk menopang dirinya menjadi
pembaharu yang efektif dan selalu berpikir positif
- Lulusan peka dan peduli terhadap lingkungan masyarakat, menjadi
pelaku nyata "garam dan terang dunia"
Proses Pembelajaran
Kurikulum Akademik
Dalam hal kurikulum, BPK PENABUR Jakarta bekerja sama dengan
Prof. Yohanes Surya, Ph.D. (Surya Institute). Surya Institute
bertindak sebagai perancang kurikulum/konsultan untuk bidang sains,
sedangkan kurikulum non sains dibuat oleh tim dari BPK PENABUR Jakarta.
KELAS SAINS (36 dari 51 jam) NON-SAINS (15 dari 51 jam)
10 Semua materi pelajaran SMA (Kurikulum Nasional) diselesaikan dalam
1 tahun (dipilih materi esensial). Bahasa Inggris, Penjaskes,
Pendidikan Agama Kristen, Character Building, Kesenian, Teknologi
Informasi (ICT), Bahasa Indonesia, PPKN dan Sejarah
11 Materi pelajaran setara dengan jenjang S1 dan materi Olimpiade
Internasional (untuk mata pelajaran sains tertentu), materi ujian
Nasional dan Cambridge. Bahasa Inggris, Penjaskes, Pendidikan Agama
Kristen, Kesenian, Sosiologi, Ekonomi, Kepemimpinan.
12 Materi pelajaran S2 dan materi Olimpiade Internasional (untuk mata
pelajaran sains tertentu), materi ujian Nasional dan Cambridge.
Bahasa Inggris, Penjaskes, Pendidikan Agama Kristen, Christian
Education, Bahasa asing lainnya.
Notes: Siswa dipersiapkan untuk mengambil ujian nasional dan Cambridge
dengan konsentrasi pada IPA, Matematika (Cambridge A Level) dan Bahasa
Inggris (IGCSE EFL).
Pendampingan Psikologis dan Formasi Spiritualitas
Mengingat program pembelajaran berlangsung dengan sangat
intensif seperti yang disebutkan di atas, maka pendampingan psikologis
dan kerohanian yang efektif sangat diperlukan. Untuk itu disediakan
psikolog dan rohaniwan yang akan menjalankan program pembimbingan
secara individual. Selain itu disediakan juga bapak dan ibu asrama.
Kesehatan Fisik
Pemeriksaan kesehatan akan dilakukan secara periodik oleh
dokter sekolah. Guru Penjaskes juga akan menerapkan latihan fisik yang
akan menciptakan kebugaran fisik siswa yang prima. Kebutuhan makanan
yang bergizi akan diatur dalam asrama tempat tinggal siswa BRILLIANT
Class ini.
Pengembangan Kehidupan Sosial dan Wawasan Lingkungan
Untuk mengembangkan keterampilan dalam pergaulan sosial sebaya,
dalam beberapa kegiatan dan mata pelajaran tertentu siswa BRILLIANT
Class juga akan bergabung dengan siswa kelas reguler yang lain. Untuk
memperluas wawasan dan sosialisasi lingkungan juga akan dilakukan
kunjungan ke lokasi-lokasi/ institusi yang berguna untuk siswa pada
waktu-waktu tertentu.
SDM dan Sarana Prasarana
Sumber Daya Manusia Guru
Jumlah guru sebanyak 20 (beberapa bidang studi diajar 2 orang)
orang yang mengajar mata pelajaran sebagai berikut: Matematika,
Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Inggris, Bahasa Asing, Bahasa
Indonesia, PAK (Pelajaran Agama Kristen), PPKN, Sejarah, Penjaskes,
Kepemimpinan, Kesenian, Sosiologi dan Ekonomi.
Guru-guru berkualitas dengan latar belakang akademis S2 atau
S3. Mereka, khususnya guru Matematika dan IPA akan direkrut langsung
oleh Prof. Yohanes Surya Ph. D. Sedangkan untuk guru-guru non IPA
direkrut dari guru-guru terbaik BPK PENABUR yang berpengalaman dan
kompeten dalam bidangnya dengan satu guru native.
Sarana Prasarana
- Asrama putra dan putri untuk tempat tinggal siswa (hotspot).
- Ruang belajar yang didesain untuk kelas kecil dengan kapasitas 20 -
24 siswa per kelas.
- Laptop untuk setiap siswa.
- Perpustakaan dilengkapi komputer multimedia dan akses internet
(hotspot).
- Ruang musik.
- Lapangan olah raga yang luas.
- Ruang laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, Komputer.
Lokasi
Lokasi sekolah dan asrama siswa di Perumahan Gading Serpong,
Tangerang hanya 20 km dari Jakarta. Pemilihan lokasi berdasarkan
pertimbangan:
- Situasi kawasan/lingkungan yang kondusif bagi proses belajar-mengajar.
- Dekat dengan lembaga pendidikan atau penelitian yang mendukung
proses pembelajaran.
Sponsor dan Beasiswa
Biaya yang diperlukan siswa untuk mengikuti program ini
meliputi uang sekolah, biaya akomodasi (asrama), uang saku, biaya
transport (pulang pergi ke daerah asal).
Bagi siswa yang memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan
namun tidak memiliki dukungan dana yang cukup dari orang tua atau
pihak-pihak yang lain akan disediakan beasiswa sesuai dengan kebutuhan
masing-masing siswa. Besar dan persyaratan beasiswa yang akan
diberikan akan diberitahukan kepada siswa dan orang tua/wali pada saat
wawancara akhir.
Selengkapnya...
Pertukaran Pemuda Muslim Indonesia-Australia
Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia
Australia-Indonesia Institute bekerjasama dengan Universitas Paramadina
menyelenggarakan program spesial, Pertukaran Tokoh Muslim Muda antara
Indonesia dan Australia, dimana tokoh/aktivis muslim muda dari Indonesia
akan mengunjungi Australia selama 2 minggu dan bertemu baik Muslim maupun
non-Muslim untuk bertukar pikiran dan berbagi pengalaman. Sebaliknya tokoh
muslim muda Australia juga mengunjungi Indonesia dalam program yang sama.
Program pertukaran ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman terutama
mengenai peran agama di masing-masing negara. Program ini juga ditujukan
untuk meningkatkan pemahaman terhadap Islam di kedua negara dan untuk meningkatkan kesadaran mengenai keanekaragaman budaya di Australia maupun Indonesia.
Syarat-syarat pendaftaran:
Pria dan Wanita berusia di bawah 40 tahun.
Menyerahkan salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP), atau Paspor.
Lancar berbicara bahasa Inggris dengan melampirkan salinan nilai
score
TOEFL (international atau institusional) minimal 450.
Menyertakan surat rekomendasi dari organisasi yang menjelaskan
kedudukan pelamar dalam organisasi tersebut.
Melampirkan surat pernyataan singkat berisi:
apa yang dapat diberikan pelamar pada program tersebut selama dan
sesudah kunjungan,
peran dari pelamar dalam organisasi dan alasan mengapa tertarik pada
program ini,
bagaimana pelamar akan membagi pengalamannya selama dan sesudah
program.
Surat pernyataan ini tidak boleh melebihi 2 halaman.
Melampirkan Curriculum Vitae terbaru (tanpa perlu melampirkan seluruh
salinan sertifikat atau dokumen yang dimiliki).
Membuat surat keterangan yang mencantumkan:
nama organisasi atau orang yang ingin ditemui di Australia.
hobby dan kebiasaan di waktu luang.
tanggal terakhir perjalanan ke Australia, jika ada.
tanggal keberangkatan ke Australia, jika terpilih.
alamat, fax atau nomor telephone yang dapat dihubungi.
Pasphoto 3 x 4 cm sebanyak 2 lembar.
Salinan Akte Kelahiran.
Melampirkan Surat rekomendasi sebanyak 2 buah dari 2 orang yang
menyatakan mengapa pelamar adalah kandidat yang tepat untuk mengikuti
program ini.
Calon pelamar disarankan untuk hanya mengirimkan persyaratan yang
disebutkan di atas.
Lamaran dapat dikirim ke:
Panitia Program Pertukaran Tokoh Muslim Muda
Indonesia-Australia
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav. 97
Mampang, Jakarta Selatan 12790
Tel: 62 21 7918 1188
Fax: 62 21 799 33 75
Batas akhir pengiriman lamaran: Jum'at, 9 Januari 2009 pukul 16.00
WIB.
Informasi lebih lanjut hanya dapat ditujukan melalui email kepada:
phanggarini@ yahoo.com. au
Selengkapnya...
Media Internet Merenggut Kemanusiaan Kita
Dalam konteks global dan kekinian, dialektika sejarah membuktikan bahwa hegemoni kapitalisme media (komunikasi dan informasi) sudah sedemikian menggurita. Melalui jaringan komputer global -yang lebih populer dikenal dengan internet- ideologi (kapitalisme) pasar media telah merembet ke dalam sisi-sisi paling subtil masyarakat seluruh dunia. Bahkan dalam usaha merayakan kemenangan besar teknologi maya sebagai konsumsi masyarakat di abad informasi dewasa ini.
Inilah sebuah trend budaya baru yang menggeser definisi lama kita tentang realitas, identitas, komunitas dan ruang tempat tinggal kita.
Selengkapnya...
Sabtu, 15 November 2008
Apa sich Pemanasan Global itu?
Mungkin belakangan ini kita sering mendengar di mana-mana tentang pemanasan global atau akrab dengan sebutan "global warming". Ya, betapa tidak global warming ini telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan makhluk hidup di bumi. So, apa sich Pemanasan Global itu? Yuk, kita cari tahu bareng...
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu dikarenakan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Selengkapnya...
Islam dan Budaya Lokal
Sejauh ini Islam di Indonesia dinilai lebih toleran terhadap budaya. Toleransi tersebut ditunjukkan dengan adanya sikap akomodatif terhadap budaya lokal. Sikap itu mencerminkan adanya kemampuan dan kemauan Muslim Indonesia untuk menyerap budaya lokal menjadi bagian dari ajaran Islam. Budaya dipandang sebagai bagian yang inheren dengan kehidupan masyarakat, sehingga tidak memungkinkan bagi sebuah gerakan yang membawa nafas rahmatan lil’alamin memberangus sesuatu yang sudah menjadi bagian dari masyarakat.
Kritik dan Afirmasi
Konsekuensinya, keislaman di Indonesia berbeda dengan mainstream yang berkembang di “pusat” pertumbuhan Islam. Mistisisme yang sebagian besar merupakan musuh gerakan Islam di Haramain (Mekah dan Madinah), di Indonesia justru menyatu dengan tradisi Islam.
Kondisi semacam ini memang menimbulkan banyak kesalahpahaman. Bagi sebagian pengamat, Indonesia dikategorikan sebagai “Islam yang jelek”. Kategori ini mendorong Nikki Keddie untuk meneliti sejauhmana perbedaan Islam yang berkembang di Timur Tengah dengan di Asia Tenggara (Indonesia). Penelitian Keddie menemukan bahwa pada dasarnya Islam yang berkembang di Timur Tengah tidak semuanya anti terhadap budaya lokal (budaya mistik). Di Kairo dan beberapa tempat lain didapatkan gejala yang serupa dengan di Asia Tenggara (2000). Berarti Islam yang bercampur dengan budaya lokal tidak khas Indonesia, dan tidak menunjukkan sebagai Islam yang jelek. Dalam konteks tradisi Islam dalam kekhilafahan Fatimiah di Mesir (abad ke-3/4 M), mistisisme—sebagaimana di Indonesia—juga berkembang luas. Padahal saat itu umat Islam sedang berada pada masa keemasan peradaban.
Dengan demikian, Islam yang bercampur dengan budaya lokal adalah gejala normal dari dinamika umat Islam. Pergumulan dan interaksi umat Islam dengan beraneka macam budaya akan mengondisikan munculnya karakter yang lebih akomodatif. Sebaliknya, semakin minim interaksi umat Islam dengan kebudayaan lokal, akan semakin miskin apresiasinya terhadap budaya lokal. Oleh penentangnya, budaya lokal dianggap sebagai sesuatu diluar Islam, yang tidak sesuai dengan nilai-nilai transenden. Budaya adalah karya manusia, sedangkan Islam adalah karya Tuhan. Jadi penolakan terhadap budaya lokal disebabkan oleh pendasaran agama pada sesuatu yang transenden secara keseluruhan.
Padahal jika diteliti lebih jauh, kandungan Al-Quran sendiri menggambarkan adanya akomodasi terhadap budaya lokal (Arab). Respon Al-Quran bermuara pada dua kemungkinan, yakni mengkritik atau mengonfirmasi budaya lokal tersebut. Kritik dilakukan sepanjang budaya tersebut menistakan kehormatan manusia. Sedangkan konfirmasi diberikan kepada budaya yang sejalan dengan cita-cita kemanusiaan. Dalam hal ini Imam Syatibi merumuskannya secara sistematis dalam maqoshid al-syari’ah (tujuan syari’at), diantaranta: pertama, menjaga dan memelihara kepentingan dan kemaslahatan manusia, dan kedua, syari’at agama diberlakukan untuk dipahami dan dihayati manusia. Jadi, relasi agama dan budaya terjadi dalam bentuk kritik dan afirmasi. Tidak semua budaya ditolak lantaran berasal dari kreasi manusia.
Prinsip Kausalitas
Islam dibangun dengan prinsip-prinsip kausalitas: senantiasa terdapat pola sebab akibat yang dapat diteliti oleh manusia, sehingga otoritas agama tidak diserahkan kepada al-Quran secara pasif. Pernyataan senada diungkapkan oleh Ali r.a. bahwa teks al-Quran tidak bisa “berbicara”, manusialah yang membuatnya “berbicara”. Jadi, prinsip-prinsip kausalitas itulah yang menjadi pedoman dalam menghayati semangat ajaran agama. Otoritas itu tidak diletakkan secara ekstrim pada manusia semata, melainkan pada kemampuan memahami tujuan syariat. Produk pengetahuan manusia itu pun memang bersifat relatif, sebagaimana relatifnya kemampuan manusia sendiri dalam memahami pola sebab akibat tersebut.
Memang tidak dapat dipungkiri adanya kontestasi di masa penyebaran Islam di Indonesia (abad ke-14 M) antara pedagang dan pendakwah Muslim di satu sisi, dengan elit-elit lokal di lain sisi. Sikap akomodatif Islam terhadap budaya menggambarkan adanya pengaruh elit-elit lokal yang cukup kuat. Budaya lokal umumnya terkait dengan legitimasi terhadap kekuasaan penguasa lokal. Karena itu semakin kuat pengaruh penguasa lokal, akan semakin besar kemungkinan sikap akomodatif Islam terhadap budaya lokal. Kecenderungan ini masih dinilai normal, dalam arti sejalan dengan ajaran Islam, sepanjang budaya lokal tersebut tidak menistakan nilai-nilai kemanusiaan. Kiprah Wali Songo dalam islamisasi masyarakat di Nusantara mencerminkan sikap akomodatif yang berlandas pada maqoshid al-syari’ah. Budaya lokal diadopsi sebagai instrumen untuk “membungkus” isi Islam, dan dijadikan sebagai bagian dari ajaran Islam sepanjang itu sesuai dengan semangat memuliakan manusia.
Kentalnya warna Islam lokal di Indonesia menggambarkan pula kualitas Islam itu sendiri. Islam tidak diturunkan untuk “memaksa” manusia menyembah Tuhan, melainkan untuk kebaikan manusia itu sendiri
Selengkapnya...
Budaya Lokal VS Budaya Global
Tak dapat dipungkiri bahwa faktor kemajuan peradaban dunia sebagai indikasi kemajuan berfikir umat manusia, tak salah apabila disebut bahwa umat manusia dewasa ini telah diperhadapkan pada situasi yang serba maju, instant dan pola pemikiran yang kritis. Kemajuan peradaban itu banyak mengakibatkan perubahan di segala aspek kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bernegara maupun berbangsa.
Banyak di antara masyarakat itu menerima perubahan peradaban itu sebagai sesuatu yang lumrah sebagai sebuah proses yang harus dijalani, dimaklumi dan kehadirannya senantiasa menimbulkan berbagai perubahan dalam praktiknya. Sehingga memaksa masyarakat budaya, mau tak mau atau sadar atau tidak sadar diperhadapkan pada situasi yang sulit antara menerima perubahan perdaban itu (karena tidak ingin dianggap kolot) atau menolak perubahan itu kendatipun dianggap primitif, konvensional dan ortodoks.
Perselisihan atau tepatnya perbedaan pemikiran seperti itu dapat muncul sebagai reaksi terhadap berbagai tindakan yang bagi sebagian orang bergerak seolah-olah meninggalkan kebudayaannya sedang sebagian orang ingin mempertahankannya sebagai sebuah warisan leluhur bersama (common heritage) yang wajib dijaga dan dilestarikan. Fenomena berikutnya adalah diakibatkan oleh mobilitas tanpa limit, dimana manusia tidak lagi dapat begitu saja dihempang dalam mobilitasnya.
Katakan saja, andai seseorang ingin bepergian ke tempat lain (negara Lain) maka tak seorangpun yang dapat menghempangnya apabila ia telah menetapkan bahwa ia harus berangkat. Keadaan ini juga mengakibatkan adanya perpaduan (assimilation) di tempat baru dimana ia berpijak, sehingga melahirkan penilaian apa yang diperoleh, diidolakan sebelumnya dengan dimana ia tinggal dan lihat.
Penilaian itu dapat saja memicu lahirnya interpretasi bahwa apa yang melekat pada dirinya ketika memutuskan untuk bepergian itu dinilai sebagai sesuatu yang kolot, tradisional dan tertinggal. Ia kemudian mengenakan berbagai atribut yang dianggap sebagai simbolisasi budaya maju seperti kritis, egoisme, dan materialistis. Kondisi lain adalah meningkatnya mobilitas sekolah antara negara dimana juga telah mempengaruhi pengakuan terhadap budaya lokalnya.
Keadaan dimana sipelaku diperhadapkan pada situasi dan alternatif yang kritis seperti itu telah menciptakan adanya anggapan bahwa budaya (lokal) tidak mampu menyaingi budaya (global) yang sedang mendunia. Namun demikian, bagi sebahagian orang tidak demikilan, bahwa budaya lokal senantiasa akan bertahan (lestari) apabila sipelaku tidak membiarkan budaya (lokal)-nya itu tidak tertindas, tidak tradisional dan tidak terbelakang apabila terdapat upaya sipelaku memajukan atau melakukan perubahan (innovation) dan penerapan (invention) terhadap apa yang disebut dengan budaya lokalnya itu. Lantas dalam situasi yang demikian ini dimana kemajuan zaman dan pola berfikir manusia tidak lagi dapat dibatasi, serta tingginya faktor komunikasi dan media penyampai, seberapa jauhkah budaya lokal itu dapat bertahan?
PERUBAHAN SOSIAL
Tak dapat disangsikan bahwa kemajuan pemikiran manusia yang senantiasa berupaya untuk menghasilkan hal-hal baru dalam hidupnya adalah hal wajar yang dilakukan sebagai makhluk yang berakal. Berangkat dari asumsi bahwa pemikiran manusia akan senantiasa merubah kondisi sosial, maka hal yang demikian itu dapat diterima secara mutlak.
Pada dasarnya perubahan itu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, peradaban (civilzation) dan kesempurnaan hidupnya yang meskipun pada dasarnya akan senantiasa juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi peradaban itu sendiri. Katakanlah, kebiasaan manusia mengkonsumsi (membeli) makanan yang serba instant, tanpa ada upaya untuk membuatnya, akan melemahkan dan memandulkan kreativitas. Belum lagi hal yang serupa itu diterima dan meresap pada diri anak-anak, maka seumur hidupnya akan menjadi pengkonsumsi utama tanpa adanya niat untuk mencoba membuatnya dengan keinginan sendiri. Alhasil, generasi yang muncul berikutnya adalah generasi yang nirkreativitas.
Perubahan sosial, baik yang direncanakan maupun yang tidak dapat dikategorikan ke dalam hal di atas yang pada intinya adalah pengupayaan ke arah yang lebih baik dengan mencoba mereduksi dampak negatif dari social change itu. Siklusnya dapat dicerna melalui adanya rekayasa sosial (social engineering), rekontruksi sosial (social recontruction). Pada tahap ini akan muncul sikap menerima (receive) ataupun berupaya menolaknya (defence). Kemudian, dalam upaya menghindari bentrok budaya (paling tidak dalam paradigma) pemikiran) maka pada saat itu dibutuhkan agen-agen perubahan (social agent) sebagai media penyampai agenda perubahan itu. Apabila, perubahan itu muncul sebagai yang tidak direncanakan, maka peran itu akan digantikan oleh sosok atau figur yang dapat menjembatani perubahan yang sedang terjadi.
Dengan begitu, perubahan yang sedang terjadi dan akan terjadi, maupun yang direncanakan ataupun tidak (kurang) direncanakan tidak akan mengalami benturan kebudayaan (peradaban) pada masyarakat kekinian. Justru dengan demikian, yang tengah terjadi adalah pemerkayaan khasanah kebudayaan dan bukan pergeseran. Dengan begitu, hipotesa kebudayaan selanjutnya adalah bahwa tidak akan pernah terjadi pergeseran kebudayaan apalagi upaya meninggalkan budaya lokal itu yang meskipun pada tataran performa seolah-olah kebudayaan itu telah bergeser atau ditinggalkan. Perubahan yang demikian itu justru harus dimaknai sebagai upaya pemberdayaan dan pemerkayaan kebudayaan itu sendiri sebagai system makna (system of meaning).
TREND GLOBAL
Suatu hal yang tak dapat dielak dan dipungkiri bahwa pola kehidupan manusia pada saat ini adalah bahwa manusia kini diperhadapkan pada situasi yang ambigu. Menolak dan menerima perubahan sosial sebagai dampak kemajuan. Opsi untuk menolak dihantui oleh resistensi dari dalam diri pribadi dan lingkungan yang secara phisikologis akan turut mempengaruhi penolakan itu. Yaitu adanya ketakutan terhadap anggapan sebagai person yang primitif, tradisional dan konvensional. Sementara untuk menerima perubahan itu juga menimbulkan benturan psikologis dimana seseorang pelaku itu dicap sebagai orang yang kurang (tidak) menghargai kebudayaannya.
Sirkumstansi yang demikian itu adalah opsi yang begitu sulit untuk dapat diterima, paroksi psikologis menjadi hambatan utama antara opsi menerima dan menolak. Akan tetapi, kecenderungan yang terjadi adalah bahwa perubahan itu adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat dibatasi apalagi dihempang. Justru, kepiawaian kita dalam menerjemahkan perubahan itu ke dalam diri kita sendiri, meresap dalam diri kita, kemudian akan memancarkan aura perubahan terhadap sikap dan prilaku kita. Dengan begitu, apakah hal yang demikian itu juga disebut telah merubah kebudayaan? Tentu jawabnya adalah tidak. Perubahan yang terjadi dewasa ini adalah kewajiban yang harus diterima, dan oleh sebab itu maka yang terjadi di seputar perubahan itu adalah trend ataupun kecenderungan yang senantiasa dimaknai.
Tantangan yang justru dihadapi adalah sampai seberapa jauh kita mampu memadukan perubahan dengan kebudayaan itu? Namun demikian, maksud utamanya adalah bukan dengan menolak kebudayaan global yang sedang mendunia. Di sini dibutuhkan pemahaman dan pengertian kita untuk menerjemahkan perubahan itu sehingga tidak menimbulkan distorsi bagi kepribadian dan kebudayaan yang menggejala. Kekuatannya justru terletak pada diri kita sendiri bahwa apa yang akan kita ambil dan maknai dari perubahan itu, dan seberapa mampukah kita menerjemahkannya ke dalam kebudayaan kita.
Apakah seorang Batak yang modern adalah orang yang tidak (lagi) menggunakan budaya Batak itu dalam kehidupannya sehari-hari? Apakah orang Batak akan dikenal sebagai orang yang tidak maju apabila atribut Habatahon masih menempel pada dirinya? Lantas bagaimana pula kebudayaan yang lahir akibat perpaduan dua unsur budaya suku yang berbeda akibat adanya kawin campur, misalnya orang Simalungun dengan Jawa? Keutamaan dari pola seperti ini adalah adanya pemerkayaan budaya lokal itu sendiri yakni pencapaian ke arah peradaban yang lebih sempurna. Anggapan itu dapat dimaknai sebagai dampak perubahan terutama dalam menghargai waktu, benda dan segala bentuk ragam unsur budaya.
Atribut-atribut budaya lokal seolah-olah terancam akibat budaya global seperti masuknya berbagai komoditas global, pengaruh dan tindakan yang dipancarluaskan oleh berbagai media penyampai seperti TV dan media cetak lainnya. Akibatnya kita akan lebih menghargai semua itu dengan waktu dan dengan adanya tuntutan tugas yang mesti dilakukan. Keadaan ini justru akan merubah kita yang tanpa disengaja telah melahirkan berbagai interpretasi atas diri dan prilaku kita.
Dalam pada itu, situasi dan kondisi dimana budaya lokal akan dipertaruhkan di tengah kancah kebudayaan global, sepertinya melahirkan kontroversi dan paradigma yang berbeda dalam memandang budaya global itu. Sebahagian tidak menginginkan adanya perubahan dalam kelokalan budayanya dan tanpa disadari tindakan yang dilakukan telah merubah keaslian kebudayaan itu. Justru dengan begitu, kita dapat memaknai bahwa perubahan itu akan senantiasa terjadi dan tanpa kita sadari akan meresapi diri kita dan masuk ke dalam pola perilaku dan tindakan kita. Oleh karenanya, kebudayaan akan semakin mantap, bertahan dan lestari.
Pertanyaan terakhir adalah menyangkut kita sebagai pemuja kebudayaan (idols of culture) kita. Adakah kita berupaya memajukan kebudayaan kita itu, atau malah membiarkan budaya kita itu terlindas oleh budaya global? Dan sampai sejauh manakah pengakuan kita terhadap kebudayaan kita itu? Oleh karenanya, penting dilakukan kembali kaji ulang terhadap kepribadian kita yakni bukan secara langsung melontarkan bahwa kebudayaan kita itu adalah tidak maju, tidak modern dan miskin dan terbelakang. Jika demikian yang terjadi maka kebudayaan kita itu akan mengalami pendangkalan makna akibat erosi pemerkayaan dan pemajuan budaya lokal itu.
Selengkapnya...